Halo Sobat ! | Members area : Register | Sign in
About me | SiteMap | Arsip | Terms of Use | Dcma Disclaimer

JADWAL SHOLAT

AGENDA PENTING 2015

Jadwal Ujian Nasional Tahun 2015
Diberdayakan oleh Blogger.

Sahabat Setia

Gree-One Readers

Gree-One Students's Galeries

 IMG_20130109_105124.jpg  IMG_20130109_084434.jpg IMG_20120925_093228.jpg IMG_20120919_104621.jpg 10092012695.jpg 10092012694.jpg 10092012694.jpg IMG_1579.jpg IMG_0813.jpg IMG_20130116_134220.jpg IMG_0843.jpg IMG_0829.jpg 32198_132993103378531_7582571_n.jpg 32198_132990600045448_4235631_n.jpg 32198_132989960045512_2295770_n.jpg 14111_115470275130814_630387_n.jpg 14111_115470268464148_6818253_n.jpg 14111_115470265130815_6638426_n.jpg 14111_115466888464486_1242365_n.jpg 10318_103571019654073_3621569_n.jpg 10318_103571016320740_6694106_n.jpg IMG_0829.jpg 34263_142381749106333_6434591_n.jpg 32198_132995200044988_4312685_n.jpg 32198_132994103378431_7081214_n.jpg 5969_100550049956170_7837172_n.jpgSevenfold ! 5969_100440493300459_195226_n.jpgSevenfold ! 5969_100440493300459_195226_n.jpg 10318_103477216330120_114670_n.jpgdamang bos 30626_123155377695637_1231291_n.jpg 168786_187156821295492_5635236_n.jpg 163616_187155354628972_5663590_n.jpg photo DSC00537.jpg photo DSC00537.jpg 163614_187156131295561_923877_n.jpg%2BEDIT.jpg" width="320" border="0" height="320" />Rinjani Permatasari's photo.
Photobucket"/>  IMG_20130116_134256-1.jpg IMG_20130202_105734.jpg IMG_20130202_105713.jpg IMG_20130202_105453.jpg IMG_20130202_105303.jpg IMG_20130202_105158.jpg IMG_20130202_094841.jpg IMG_20130202_093924.jpg IMG_20130202_092053.jpg IMG_20130116_133116.jpg IMG_0857.jpg IMG_1607.jpg IMG_1606.jpg IMG_1592.jpg IMG_1585.jpg IMG_1579.jpg IMG_1212.jpg IMG_1206.jpg IMG_0850.jpg IMG_0237.jpg IMG_0236.jpg IMG_0230.jpg IMG_0226.jpg IMG_0223.jpg IMG_0220.jpg IMG_0216.jpg IMG_0072.jpg IMG_0217.jpg IMG_0843.jpg IMG_0875.jpg IMG_1597.jpg IMG_1596.jpg IMG_1625.jpg IMG_1591.jpg IMG_1579.jpg IMG_0829.jpg IMG_1579.jpg IMG_0840.jpg 35329_144622202215621_5166195_n.jpg 5969_100550056622836_6222622_n.jpg 10318_103571006320741_6025297_n.jpg 34914_142383585772816_2380126_n.jpg 14111_115466895131152_5854480_n.jpg Foto 14111_115470255130816_4102168_n.jpg

Translate

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cari Blog Ini

http://berita.siap-sekolah.com/feed/

SMP NEGERI 1 CIPONGKOR BANDUNG BARAT-GREE-ONE EKSIS !!! "EDUKATIF, KOMPETITIF, SELEKTIF, INOVATIF, SIMPATIK"

JANGAN SIA-SIAKAN HIDUP

Senin, 25 Desember 2017

Ingatlah lima perkara, sebelum datang lima perkara. Ingatlah akan sehat mu, sebelum datang sakit muPergunakan waktu luang mu sebelum datangkesempitanpergunakanlah masa muda mu sebelum datang saat tua mu,pergunakanlah masa kaya mu sebelum kemiskinan datang…dan manfat’atkan hidupmu sebelum kematian datang. .(Nabi Muhammad SAW)
Maha Suci Allah, yang menggenggam hidup kita, tak satupun makhluk yang menghuni jagat raya ini yang lepas dari pengamatan, pendengaran, penglihatan Dia, yang Maha Gagah lagi Maha Perkasa.
Sesungguhnya kita telah sering melalaikan tugas kita selaku seorang hamba kepada al Kholiq yakni‘ibadah. Betapa tidak, sangatlah sering kita menyia-nyiakan hidup yang hanya sekedar mampir ini, sangatlah sering kita menyia-nyiakan kesempatan yang berikan berupa kesempatan untuk merasakan kesehatan, menikmatan luangnya waktu, nindahnya masa muda, kesempatan memiliki harta, dan kesempatan menikmati hidup…kita bahkan jarang memikirkan bahwa kesempatan-kesempatan itu hanyalah sekedar mampir sebentar, dan tidaklah mustahil akan berubah menjadi sakit yang berkepanjangan, kesempitan yang menghimpit, masa tua renta yang terhinakan, kemiskinan yang menyesakkan dada, dan kematian yang berujung dengan penyesalan yang teramat panjang.
Maka orang yang sangat menjaga kesempatan ini adalah orang yang meyakini akan akhirnya suatu hidup, yang yakin akan ke fanaan makhluk, dan ketidak abadian insan yang selalu lemah dan tak berdaya melawan ketuaan, yang lemah tak berdaya melawan kefakiran, yang lemah tak berdaya melawan sakaratul mautsehingga akan berusaha sekuat tenaga agar amanah berupa kesempatan-kesempatan itu terpelihara manfa’atnya.
Kita umumnya sering beranggapan bahwa hidup ini adalah segalanya, sehingga lupa akan hari akhir yang sangat akan menyita perhatian, yang akan berakhir dengan penyesalan yang panjang, bila kita tidak benar-benar mempersiapkan diri untuk berusaha agar hidup ini tidak sia-sia, bukankah hidup yang didambakan kita adalah hidup yang berkah di dunia dan berkah di akhirat? oleh sebab itu keyakinan yeng teguh dan keimanan yang istiqomah akan menjadi modal kita untuk berusaha mempersembahkan hidup yang terbaik dan tidak sia-sia.
Yang pertama kita harus berusaha agar keyakinan akan tidak pernah luntur barang setitikpun, keyakinan akan Dzat Nya, keyakinan akan sifat Nya, sehingga orang yang sudah memiliki tingkat keyakinan seperti ini akan selalu tampil dengan penuh tawadlu, rendah hati, tidak memandang remeh orang lain tidak hubbud dunya karohiyyatul mauut, cinta dunia dan takut mati, karena dia yakin akan balasan bagi orang yang senantiasa menjaga budi pekerti, dan akan senantiasa dicintai bagi orang yang selalu menjaga akhlaq dimanapun dia berada , ketika dia diamanhi harta , karena dia tidak mencintai dunia secara berlebihan maka dia akan qona’ah, tidak serakah dan selalu berbagi dengan sesama pada akhirnya dia akan Waro, berhati-hati terhadap sesuatu yang dianggapnya akan merusak keyakinannnya kepada , sehingga pada dirinya akan muncul perisai berupa syukur bila memperoleh apapun kenikmatan dan shabar bila mendapat apapun ujian .
Kedua, orang yang tidak akan sia-sia hidupnya adalah yang tidak ingin hidup ini berlalu begitu saja, sehingga seluruh desah nafas, setiap darah mengalir di nadi dan selama detak jantungnya masih berfungsi , dia akan berusaha agar beramal sholeh, menebar kasih sayang kepada sesama, menanam kebaikan bagi siapapun juga , dan berusaha untuk tidak menjadi beban, berusaha untuk tampil sebagai pemecah masalah bagi setiap persoalan yang ada, tidak malah menjadi sumber masalah….
Ketiga, bila keyakinan telah terpatri di dada kita, sehingga sebagai tumpuan, sebagai tujuan, dan syukur sebagai perisai dari kesombongan dan shabar sebagai pijakan dari keputusasaan, maka orang yang tidak akan menyia-nyiakan hidupnya adalah orang yang selalu bersemangat menyebar nasihat , berusaha mensyiarkan kebaikan dengan cara hikmah dan bijaksana . Bibir senantiasa berdzikir, lidah fasih berdakwah, lisan menyuarakan kebenaran dan berusaha menyampaikan yang haq dan mengajak semua orang berbuat yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Orang yang sisa hidupnya dipergunakan bagi sebanyak banyaknya umat, akan senantiasa bersemangat untuk bersaudara bagi siapa saja, bersemangat untuk solusi bagi setiap permasalahan, dan bersemangat untuk maju bersama-sama.
Sesungguhnyalah orang yang beriman yang senantiasa beramal shaleh, yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaranlah yang tidak rugi dan selalu mendapat tempat di sisi, dan akan menikmati jamuan Nya di akhirat kelak buah amal yang tidak sia-sia dan melalui hidupnya dengan penuh manfat’at bagi sebanyak-banyaknya umat, dan penuh kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang, penuh ketakutan akan tidak mashlahat hidupnyapenuh kekhawatiran jika amalnya berbuah penyesalan di akhirat kelak.
Semoga kita senantiasa terpelihara sebagai orang yang tidak melalaikan hidup ini, dan dicatat sebagai makhluk yang tidak tersia-siakan hidupnya di akhirat kelak akibat dari amal yang sia-sia dan tidak bermanfa’at. Amin(khutbah Jum’at #adhycimahi2017)

INDAHNYA CINTA RASULULLAH (Seri Pendidikan Karakter Ala Rasulullah)


Rabi’ul awwal, sudah tiba. Bulan dengan berjuta perasaan kita ungkapkan dalam shalawat, kehormatan dan salam, kepada jungjunan alam, Nabi Agung Muhammad saw., yang seluruh jiwa dan raganya dipersembahkan untuk umat manusia. Semoga ucapan sholawat kita, tutur salam kita, terpatri pada panji kenabian di akhirat kelak. Aamiin.
Kemuliaan Baginda Rasul Muhammad saw., tentu tak terkirakan, Beliau memang manusia, tetapi sangat berbeda dengan umumnya manusia. Salah satu perbedaannya adalah beliau selalu ikut bersedih bila melihat kesengsaraan di depan mata, dan beliau tampak bahagia manakala menyaksikan kebahagiaan dirasakan umatnya. Sangat jauh berbeda dengan kita, yang terkadang senang melihat orang susah, dan susah sekali manakala melihat orang senang. berhati-hatilah, ini salah satu ciri kedengkian sudah merasuk di dalam dada kita.
Rasululloh saw. tidak pernah dengki, tidak pernah hasud,sehingga wajahnya terpancar kejujuran dan keikhlasan dalam setiap amal, yang berbuah al amin, terpercaya dalam segala hal. Langkah hidupnya tegap penuh optimis, tidak pesimis yang terangkum dalamzuhud, kesungguhan dalam memperbaiki diri demi kebaikan dan kebaikan setiap harinya. Baginda Rasul selalu tampil dalam kesahajaan dibalik kemegahan kharismanya yang mencuat ke seantero jagat raya. Jubahnya adalah takwa, terompahnya adalah rel-rel haq, mahkotanya adalah ‘ilmu pengetahuan yang senantiasa digali sepanjang hayat, tangan kanan memegang hukum al Kholik, Pencipta alam semesta, tangan kiri memegang timbanganmizan keadilan, yang senantiasa berpihak pada yang lemah dan tegas pada aturan yang ditetapkan dalam al Qur’an dan sunnahnya, di dadanya terpatri keyakinan yang kuat akan kemenangan pasti berpihak pada kebenaran, di matanya terpancar sinar kelembutan jauh dari tatapan sinis memvonis, telinganya senantiasa diupayakan mendengar jeritan umat yang haus akan kebenaran sehingga berbuah lisan berucap nasihat hikmah penuh dengan kebijaksanaan disetiap tutur katanya.
Baginda Rasul saw., yang berdasarkan ahli tarikh yang masyhur, lahir hari senin tanggal 12 Rabi’ul awwal tahun Gajah, atau bertepatan dengan 20 April 571 M, adalah sosok pejuang kemanusiaan, yang hidup penuh dengan perjuangan, berjuang melawan kemiskinan akibat keadaannya yang yatim piatu, berjuang melawan arus adat istiadat yang rusak, berjuang mempertahankan aqidahmillata Ibrahim melawan jahiliyah yang mempertuhankan berhala sebagai perantara menghadap Allah. Beliau saw., juga senantiasa berjuang menjadi sosok manusia yang tidak menjadi beban dalam setiap keadaan, dan senantiasa berkeinginan menjadi solusi dalam setiap permasalahan. Kita hafal riwayatnya, ketika baginda menjadi sosok pemersatu yang menengahi pertikaian dalam kasus peletakan hajar Aswad, yang memberinya kedudukan sebagai al Amiin, terpercaya. Tidak pernah ada gelar yang diberikan kepada tokoh kuat dunia saat itu dan sesudahnya, sebagai orang yang tak pernah berdusta, tak pernah dengki, jauh dari penyakit hati lainnya, kecuali kepada sosok Muhammad saw. Maka tak heran dalam kurun kurang dari 23 tahun masyarakat Arab khusunya, dan dunia umumnya diubahnya menjadi wajah dunia yang gemerlap kembali, terang benderang, disinari cahaya Illahi yang sebelumnya meredup akibat kebodohan umat manusia. Ilmu pengetahuan kembali digali, sebagai syarat mutlak hidup menjadi terang benderang, dan Islam tampil sebagai pemersatu dan penyelamat kehancuran dunia, peradaban manusia pun menemukan jati dirinya, dimana manusia ditempatkan sebagai “manusia” yang karena ketakwaannya menjadi lebih mulia dibandingkan makhluk lainnya dihadapan Allah, Sang Pencipta alam raya. Apabila sebelumnya genderperempuan sebagai warga kelas dua, bahkan aib bagi setiap keluarga, maka Islam tampil dengan spirit baginda Rasul saw., menempatkannya sebagai makhluk penuh dengan kemuliaan sebagai penerus ganerasi umat manusia. Dalam beberapa riwayat dengan tegas bahwa “Ibu” disebut beliau lebih banyak ketimbang bapak sebagai bukti penempatan kaum hawa yang mulia.
Maka barangsiapa yang mengaku umat Rasul Muhammad saw., hendaklah kita meneladani akhlak beliau yang mulia, dengan selalu berkata dengan perbuatan, berbuat dengan penuh keikhlasan sebagai pancaran hati orang beriman, bertutur kata yang mulia atau diam, selalu berjuang menegakkan kebenaran walau pahit dirasakan, selalu memuliakan tamu, menghormati tetangga, mengangkat harkat ayah bunda, menyayangi saudara seiman seperti layaknya saudara kandung, bertekad tidak menjadi beban, berusaha menjadi suri tauladan dalam setiap keadaan , selalu memiliki kepekaan dan kepedulian kepada semua makhluk Alloh.
Sesungguhnya cintanya Rasul saw., kepada kita tak pernah berhenti, bahkan menjelang wafatnya sekalipun, bibirnya yang mulia berucap ummati, ummati, ummati, disebutnya sebagai bukti kecintaannya kepada kita.
Kini 14 abad lebih telah berlalu, bukti kecintaannya kepada kita kian terasa, dengan masih diberinya kita kesempatan untuk merasakan karunia Allah, berupa rahmat dan kasih sayang Nya, sebagai buah do’a baginda Rasul yang menitipkan ummatnya kepada Pemilik dan Pemelihara makhluk, yakni Allah, untuk diampuni dosanya sejauh tidak musrik, diberi penangkal bala bagi yang rajin sedekah, diberi kemuliaan hidup bagi pelanggeng silaturrahmi, diberi kebarokahan rizki bagi para pencinta anak yatim, diberi jaminan hidup bagi para pemakmur “rumah Allah”, masjid, diberi keturunan shalih-shalihah, dan penerang hati bagi para pencinta ‘ilmu dan ‘ulama, diberi keselamatan dari adzab kubur bagi para pembaca kitab suci al Qur’an, diberi kemudahan berikhtiar bagi para pembayar zakat, diberi kedudukan yang mulia di sisi makhluk dan khalik bagi para pemegang hukum Allah dan Rasul Nya, dan berjuta do’a beliau saw., untuk kita ummatnya.
Maka bagi kita yang sejak kecil ditanamkan kecintaan kepada Rasululloh saw., lewat shalawat, hendaklah tetap mendawamkannya sebagai salah satu bukti pengakuan kita selaku umat beliau saw.
Selanjutnya mengaplikasikan akhlaqRasul saw., tersebut dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, masyarakat dan dimanapun kita berada.
Sesungguhnya, hanya orang yang berjuang untuk mencintai Rasulullah-lah yang akan lebih dicintainya kelak di akhirat. Mencintai Rasul saw., adalah dengan meneladani perilaku beliau, disetiap keadaan, mencintai ‘ilmu dan ‘ulama sebagai warisannya.
Barangsiapa terpatri di dadanya, kecintaan terhadap Rasulullh saw., maka terpatri pula nama kita di panji kenabian Baginda Muhammad saw, yang tercinta. Wallohu’alam.
(**Khutbah Jum’at Rabi’ul Awwal Cimahi . adhy 1439H**)

INDAHNYA BENING HATI (Pendidikan Karakter Ala Rasullullah)

Rabu, 20 Desember 2017

Hati yang dijaga dengan iman tentu akan berakibat lisan bertutur sopan, mata tertata dengan bersih penuh dengan kedamaian, tangan ringan membantu orang, kaki melangkah dengan ringan ke majelis-majelis ‘ilmu, dan seluruh hartanya barokah karena dia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Alangkah indah hidup dengan hati yang bening, hati yang penuh dengan harapan akan kemuliaan di akhirat, dan hati yang penuh dengan harapan akan datangnya pertolongan Allah, pada hari dimana tidak berguna seluruhnya kecuali ketika menghadap Nya dengan hati bening.
Betapa indah ketika kita menyaksikan dua orang berjumpa dengan saling bertegur sapa, berjabat tangan, saling menyampaikan salam, mulut penuh senyuman, bibir senantiasa bergulir menyampaikan do’a, kepala mengangguk serta saling meng”iya”kan tanda penghormatan, tanpa menghinakan , dan berpisahnyapun penuh dengan harapan agar dapat bersua kembali dalam keadaan sejahtera selamanya.
Hal tersebut di atas, disadari sudah semakin jarang, menjadi hal yang langka, seiring perkembangan zaman yang menuntut kita lebih konsentrasi pada urusan duniawi, sehingga tak heran karena dikejar jam kerja, orang tua menjadi jarang bertutur sapa dengan anaknya, seorang suami menjadi jarang komunikasi dengan istrinya, sang ibu menjadi sangat jarang bercengkerama dengan putra-putrinya, dan para tetangga menjadi jarang silaturahmi karena kesibukan duniawinya, dan masjid-masjid menjadi kosong karena kita lebih sibuk menjaga harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan, ketimbang megurus keperluan bekal akhirat.
Semuanya terjadi dikarenakan hati lebih terpaut pada urusan duniawi, ucapan salam terasa berat diucapkan karena hati kita tidak condong kepada makna keselamatan yang hakiki. Sesungguhnya sudah saatnya kita menyikapi semua itu dengan hati yang bening. Hati yang penuh dengan kepasrahan, hati yang penuh dengan pengharapan, agar kedamaian dan kesejahteraan akhirat dapat kita gapai.
Hati diibaratkan sebagai perahu yang berlayar dalam samudera jiwa yang luas, yang terapung dengan penuh kemegahan; Betapa tidak, di dalamnya penuh dengan cita-cita dan semangat yang menggelora dalam mengarungi samudera hidup, di dalamnya juga penuh dengan cinta, suka bahkan duka lara. Namun semuanya terkendalikan karena kebeningan hati dalam menyikapi berbagai permasalahan, dan lebih dikarenakan keyakinan yang kuat akan pertolongan dan petunjuk Allah yang Maha Perkasa.
Perahu hati ini dinakhodai oleh “Iman”, keyakinan, sehingga arah bahtera kehidupan pun terarah selaras dengan kompas Illahi menuju titik dermaga akhir hayat. Perahu hati ini melaju dengan dibantu oleh layar “’Ilmu” dan didorong oleh dayung amal shalih, makin banyak ‘amal shalih, makin cepat dia melaju dengan megahnya; Terkadang ‘amalnya pun menjadi assesoris yang indah yang menggelayuti setiap inci tubuhnya, kekayaan amal ini menjadi bekal yang teramat cukup menuju pelabuhan akhirat kelak.
Tidak jarang perahu hati yang mulia dan bening ini menemukan para pelaut yang terapung akibat perahu hati mereka karam karena kesombongan. Ditolongnya dengan penuh keikhlasan, karena rupanya perahu hati ini penuh dengan ‘ilmu terapi spiritual, yang mampu menyadarkan semua orang menuju ampunan Alloh, yang luasnya seluas langit dan bumi, tidak bertepi.
Begitulah, bila hati kita bersih maka segala pikiran akan jernih , semua permasalahan hidup dapat terangkat dan terselesaikan, bahkan arah hidup pun lebih terarah karena dipenuhi dengan prasangka baik kepada Allah, dan senantiasa yakin bahwa Allah akan senantiasa membimbing umatnya menuju suatu kebaikan. Jika dirasakan berat hidupnya, maka diyakininya bahwa semua itu adalah salah satu gelombang laut hidup yang terkadang besar dan terkadang hanya berupa riak belaka.
Sesungguhnya orang yang bening hatinya, dia akan menjadi jujur, dan senantiasa transparan dalam menyikapi semua keadaan, akan selalu menghormati dan memuliakan semua orang, karena dia selalu memandang orang sebagai makhluk yang harus saling menjaga, saling bantu, dan saling menyayangi. Bukankah baginda Rasul SAW, selalu menempatkan umatnya dengan tidak memandang suku bangsa, ras, dan meneaskan bahwa kemuliaan hanya terletak pada nilai takwa kepada Allah swt. Begitulah, orang yang bening hati tidak akan terjangkit penyakit yang menyesatkan , kesombongan dilemparkannya jauh-jauh dari kehidupannya, keserakahan akan harta haram disingkirkannya, bergunjing menjadi penyakit yang menakutkan, dan hasud menjadi barang terlarang. Orang yang bening hati pun akan senantiasa beramal dengan penuh keikhlasan, dan dengan perasaan takut kalau-kalau amalnya tidaklillahi ta’alaa
Memelihara kebeningan hati adalah suatu keharusan, agar hidup ini penuh dengan keridoan Allah swt. Diantara yang dapat memelihara kebeningan hati adalahdzikrullah, dzikir kepada Allah. Dzikir adalah upaya yang paling efektif untuk menjaga hati; baik lisan dan terutama perbuatan, dengan mengingat akan keberadaan Allah, dengan berbagai Kekuasaan Nya, Qudrat danIradatNya; akan senantiasa mengendalikan diri pada arah yang benar, bahwa kita akan mendapatkan konsekuensi atas segala amal yang kita lakukan di dunia ini, lewat pintu HisabNya dan Mizan Nya, perhitungan amal, dan timbangan amal, dihadapan Allah, Hakim yang seadil-adilnya.
Alangkah indah jika setiap relung jiwa ini dipenuhi dengan hati yang bening, yang setiap wajah dipenuhi dengan cahaya ikhlas, setiap amal tanpa pamrih, setiap keluarga yang kita jumpai penuh dengan suka cita, setiap berjumpa bertegur sapa, saling menyampaikan salam, saling mendo’akan, saling membantu, bertutur sopan, saling menyantuni. Hati yang demikian dapat digapai dengan hanya mengingat Alloh di setiap pagi, petang dan setiap nafas kita. “Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub...”hanya dengan mengingat Alloh lah hati kita akan tenang. (QS. As Syuara :88-89)
Akhirnya, pancaran hati yang bening berbias keikhlasan, kejujuran dan menebar keselamatan dan kedamaian, sebagaimana baginda Rasul SAW. yang membawa umat manusia ke zaman yang gemerlap dengan penuh perasaan sayang, buah dari kebeningan dan keikhlasan hati yang muncul dari jiwa manusia pencinta dzikir kepada Allah, dan buah amal manusia yang jujur akibat takutnya yang teramat sangat akan murka Allah yang ditimpakan kepada orang yang kotor hati. Wallahu’alam
(**Khutbah Jum’at cimahi .@ adhy 1439 H**)

INDAHNYA BERSAMA RASULULLAH (RENUNGAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW)

Rasululloh SAW membangun dunia dalam waktu kurang dari 23 tahun. Pada saat itu , wajah bumi demikian semrawutnya, sehingga yang salah menjadi rujukan, sementara kebenaran menjadi tabu. Rasululloh SAW berhasil mengembalikan kepada fitrahnya kembali. Yakni kebenaran harus menjadi pijakan dan kesalahan harus disingkirkan . Apa rahasia dibalik keberhasilan beliau?
Kita mafhum, wajah dunia pra Islam, adalah wajah yang penuh dengan bopeng, buruk tingkah laku penghuninya, serta rusak akhlak para pemimpin dan rakyatnya. Kemudian Rasululloh SAW. hadir dengan segala kesahajaannya. Dirubahnya bopeng dunia ini menjadi wajah yang indah, dimana para penghuninya selalu menebar senyum ketika bertemu, saling bertegur sapa jika berjumpa, berjabat tangan menjadi kebiasaan, sopan dalam pergaulan, santun dalam segala tingkah laku perbuatan, pada hal sebelumnya para penghuni dunia ini, penuh dengan kebencian bila tidak sepaham satu sama lain, saling dendam bila tak menemukan kata sepakat untuk berdamai, permusuhan antar suku menjadi tradisi, maksiat menjadi ta’biat, harta kekayaan menjadi dewa yang dipertuhankan, perbudakan merajalela, sehingga harga manusia jelata tak berarti sama sekali, dan anak perempuan adalah aib, sehingga bergelimpangan mayat-mayat anak perempuan tak berdosa. Namun Rasululloh SAW, dengan kekuatan keyakinannya yang kuat akan ke Maha Besar an Alloh, beliau membalikan keadaan semuanya menjadi wajah dunia yang aman, penuh dengan kedamaian, harkat dan martabat manusia kembali diangkat ditempatkan sesuai dengan fitrahnya, dihapuskannya perbudakan, dilenyapkannya dendam dan permusuhan antar suku, ditempatkannya manusia dengan tolok ukur ketakwaannya kepada Alloh.
Ada beberapa hal yang sangat berharga , yang patut kita telaah tentang keberhasilan Baginda rasululloh saw. dalam membangun bumi.
Pertama , Baginda Rasululloh, selalu menempatkan dirinya sebagai pelopor kebaikan, dimanapun beliau berada. Baginda tidak pernah meyuruh apapun kecuali beliau sendiri orang yang pertama melakukannya, padahal sebagai kepala negara, beliau memiliki wewenang dan kekuasaan untuk memerintah rakyat dan umatnya. Hal tersebut sering luput dari pengamatan kita. Ketika ditakdirkan memiliki kekuasaan, maka yang terbayang oleh kita adalah kekuatan untuk memerintah orang, kekuasaan untuk meyuruh orang, tidak pernah terbersit di benak kita untuk sekedar memberi contoh. Alhasil, manakala bawahan kita, atau orang yang disuruh tidak melakukan apa yang kita perintahkan, atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka yang terjadi adalah kemarahan, ketidakpuasan dan kekecewaan, dan puncaknya adalah penghinaan kepada orang lain, yang sadar tidak sadar membuat orang lain terhina dan teraniaya.
Rasululloh SAW, senantiasa banyak berkata dengan perbuatan daripada berbuat dengan perkataan, sehingga umatnya senantiasa berlomba-lomba meniru kebaikan yang diwariskan oleh baginda saw.
Kedua, baginda Rasul, selalu berani mengakui kelebihan orang lain dalam kebajikan, sehingga tak henti-hentinya beliau memuji para sahabatnya yang senantiasa berlomba dalam meraih ridlo Alloh, dengan sabdanya:’ Ashabi kalnujum”, “sahabatku bagai bintang,” yang tidak hanya mampu menerangi diri sendiri, tetapi menjadi penerang bagi dunia yang gelap di malam hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebesar apapun gelar yang disandang beliau, setinggi apapun kedudukan beliau, tidak menghalangi untuk bisa memuji dan tidak merendahkan orang di bawahnya.
Ketiga, beliau SAW selalu bijak dalam menyikapi kekurangan orang lain, sehingga beliau tidak pernah meluncurkan cacian dan makian kepada musuh sekalipun, bahkan beliau senantiasa mendo’akan agar kaum yang memusuhinya diberikan Allah hidayah, karena keyakinan beliau bahwa mereka memusuhinya dikarenakan kebodohan akibat kegelapan hatinya tidak mau menerima kebenaran.
Allohumahdi qaumi fainnahum laa ya’lamun
Keempat, Rasululloh saw. senantiasa mampu melupakan sebesar apapun kesalahan yang dilakukan orang lain. Kita tahu, bagaimana sedih dan terpukulnya beliau menyaksikan gugurnyasayidina Hamzah ra. yang sangat beliau cintai di tangan seorang budak Abu Sofyan, yang bernama Wahsyi, namun ketika Wahsyi dan Abu Sofyan masuk Islam, dengan kebeningan hatinya, Rasulullah menerima dan mengampuninya serta melupakan kesalahan masa lalunya.
Hal-hal tersebut di atas adalah sebagian akhlak Rasulullah SAW, yang menjadi resep dalam membangun dunia ini, sehingga berubah dari kegelapan menjadi terang benderang seperti ini, minna zhulumati ilaa nuur.
Oleh karena itu, jika ingin merubah diri menjadi lebih baik dari hari kemarin, ingin menjadikan keluarga menjadi sakinah mawaddah warrohmah, ingin putra-putri menjadi shaleh shalihah, ingin istri atau suami menjadi suri tauladan keluarga, ingin merubah lingkungan kita menjadi lingkungan yang aman, tenteram, penuh dengan kedamaian, mulailah menempatkan diri kita menjadi pelopor segala kebaikan, senantiasa mampu berkata dengan perbuatan, dan mampu memberikan contoh keteladanan dalam segala hal.
Akhirnya, jika ingin hidup penuh dengan kemuliaan, keberkahan di sisa usia, diridloi segala amal perbuatan kita, maka mulailah berani mengakui kelebihan orang lain, karena dengan berani mengakui kelebihan orang, kita mendidik diri untuk tidak sombong, takabbur dan sikap meremehkan orang lain. Dan ketika hal tersebut tertanam di setiap dada kita, maka akan timbul keberanian untuk melupakan jasa diri, yang terasa adalah kekurangan-kekurangan dalam berbuat kebaikan, sehingga akan muncul keinginan untuk senantiasa berlomba dalam kebaikan dalam segala hal. Akibatnya, manakala keberanian mengakui kelebihan orang dan berani melupakan jasa diri sudah tampak pada diri kita, akan timbul sikap melupakan sebesar apapun kesalahan orang, dan selalu bijak terhadap kekurangan orang lain.
Wallahu’alam.
Sesungguhnya Rasululloh saw. telah mewariskan ‘ilmu-‘ilmu di atas sebagai resep hidup tenteram dan damai.. jauh dari kebencian, jauh dari dendam, jauh dari kedengkian...
Alangkah indahnya bila semua di atas dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, serasa indahnya berdampingan dengan kekasih kita semua, Rasululloh saw.Wallohu’alam.
(**Khutbah Jum’at Rabi'ul Awwal cimahi @ adhy 1439 H**)

GENERASI “EKSIS”

Fenomena zaman sekarang tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan sepuluh, dua puluh atau bahkan tiga puluh tahun yang lalu, ketika generasi pada saat tersebut masih “steril” dari berbagai macam isu negatif dari “dunia luar”. Generasi pada tahun 70 an misalnya, pada saat itu nilai idealisme, nasionalisme, dan patriotisme masih kental melekat pada tubuh. Siapapun mengusik salah satu dari nilai tersebut, akan bangkitlah semangat dan daya juang untuk mempertahankannya. Penulis merasakan sendiri, ketika tim bulutangkis Indonesia dipermalukan negeri jiran dalam perebutan Thimas Cup di Jakarta pada awal 70 an, rasa nasionalisme terasa terusik dan hati terasa sakit menyaksikan peristiwa tersebut. Atau pada awal tahun 80 an bagaimana bangganya menyaksikan di layar kaca ketika pasuka khusus TNI berhasil menggagalkan upaya pembajakan para teroris di Bangkok. Juga, pada akhir 90 an, ketika menjadi bagian reformasi menggulingkan rezim Orba dan ikut menghantarkan para pemimpin era baru. Kesemuanya tidak terlepas dari tiga potensi di atas, idealisme, nasionalisme, dan patriotisme.
Waktu pun berlalu, dan masa telah berubah seiring berganti hari dan zaman pun melangkah pasti. Tidak sedikit diantara para pemerhati generasi terselip rasa pesimis menyimak kondisi generasi saat ini, idealisme mulai melemah, nasionalisme mulai luntur, dan patriotisme pun mulai lekang ditelan zaman. Namun, kini penulis menyaksikan satu ghirah,semangat luar biasa dari diri generasi sekarang ini. Secara bahasa tentu berubah, walaupun secara substatansi tetap tidak berubah. Generasi awal tahun 2000 an saat ini, penulis merasakan ada geliat positif. Idealisme, nasionalisme, dan patriotisme dikemas dalam bentuk terminologis baru yang edukatif, kreatif, selektif, inovatif, dan simpatik.
Edukatif, bermakna bahwa generasi sekarang sangat menjungjung tinggi pendidikan formal. Sekuat tenaga para orang tua berupaya menyekolahkan anak-anaknya untuk mencapai pendidikan setinggi mungkin. Terlepas dari niat dan tujuan mencapai tarap pendidikan yang tinggi, namun fenomena ini hendaklah dicermati sebagai bagian dari perubahan positif, setidaknya dengan memiliki pendidikan tinggi akan tercipta pola pikir yang lebih progresif dan selalu berupaya untuk memperbaiki taraf hidup lebih baik dari pada sebelumnya.
Kreatif, dapat diartikan sebagai prilaku positif dalam berkarya untuk menciptakan berbagai hasil yang bermanfaat. Saat ini, berbagai macam kreasi tersebar hampir ke semua pelosok daerah, dari kreasi yang sifatnya individu maupun massal, juga berbagai bidang kreasi, dari bidang ekonomi, sosial, budaya dan berbagai bidang lainnya. kreasi anak muda saat ini, dirasakan menambah khazanah maraknya berbagai karya anak bangsa.
Selektif, selalu memilih dan memilah dalam segala tindakan, termasuk dalam memilih teman, menentukan cita-cita, dan sebagainya. Sikap selektif tersebut sangatlah berguna sebagai “filter” penentuan sikap dalam memilih berbagai alternatif pilihan, sehingga akan tercipta pribadi yang tangguh dalam bersikap, tegas dalam bertindak, cepat dan tanggap dalam berbuat.
Inovatif, selalu mengadakan pembaruan yang sifatnya perbaikan dari yang sudah ada menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna. Generasi saat ini sangat unggul dalam berbagai inovasi. Temuan-temuan yang sifatnya pembaruan menjadi nilai unggul tersendiri sekarang ini. Inovasi dalam pendidikan dirasakan paling mendapat tempat istimewa. Model-model pembalajaran, yang di dalamnya mencakup strategi, metode dan teknik pembelajaran dapat dinikmati dan diaplikasi oleh para guru sebagai buah inovasi mereka.
Simpatik, menjadi pribadi yang tidak hanya unggul dalam kemasan tampilan, tapi unggul dalam talenta yang menjadi inspirator bagi siapapun yang mengenalnya. Berbagai pelatihan kepribadian sangat berjasa dalam mengantarkan sosok-sosok berkarakter, sehingga pribadi simpatik pun muncul dengan sendirinya. Pribadi yang sopan dalam bertutur, santun dalam bersikap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pribadi simpatik.
Generasi “eksis” tersebut di atas, menjadi energi positif, serta menumbuhkan optimisme pada hati penulis, sehingga harapan ke depan, generasi “eksis” ini akan menjadi potensi luar biasa bangsa ini menjadi bangsa yang unggul dalam segala bidang. Kewajiban kita adalah memelihara serta menjaga potensi tersebut agar tidak sekedar harapan dan impian belaka, dengan menumbuhkembangkannya pada anak didik kita; mulai dari diri sendiri, keluarga, anak didik, saat ini juga. ***adhyatnika.gu@gmail.com

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH REGULER KENAPA TIDAK?


Keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah reguler sering dipandang sebagai hambatan bagi kemajuan di lembaga formal pendidkan seperti SD, SMP, SMA/SMK atau sejenisnya. Tidak sedikit lembaga formal pendidikan yang menolak keberadaan anak berkebutuhan khusus. Padahal kalau merujuk padaUndang-Undang (UU) No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 49, yang berbunyi“Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan”. Juga dalam Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 5 ayat 1: “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.
Sebagaimana yang diketahui bahwa dalam proses pendidikan, setiap peserta didik mengembangkan potensinya melalui proses interaksi dengan pendidik, kawan sebaya, lingkungan, dan sumber belajar lainnya. Proses pendidikan ini akan memungkinkan peserta didik menghayati pengalaman belajar untuk mewujudkan 4 (empat) pilar pendidikan, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk mampu melakukan (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama (learning to live together).
Memang, ABK adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: Tunanetra,tunarungutunagrahita,tunadaksatunalaras,kesulitan belajargangguan prilakuanak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dananak cacat (Heward, 2008). Tetapi hal tersebut tidak berarti mereka dikesampingkan dalam memperoleh kesempatan pendidikan sebagaimana anak normal lainnya.
Sesungguhnya pembelajaran bagi ABK tidak hanya dapat dilakukan oleh guru di kelas, tetapi seluruh staf sekolah, teman di kelas, maupun seluruh keluarga harus terlibat dalam proses pembelajaran ini. Misalnya untuk anak yang mengalami gangguan autis atau disleksia, mereka menjalani terapi khusus di sekolah untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar dengan model pemberian reward setiap kali mereka berhasil melakukan satu tugas. Tentu saja setiap tugas yang diberikan harus berkesinambungan dari sekolah sampai di rumah dengan pengawasan orangtua atau pengasuh anak tersebut. Keterlibatan seluruh orang yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus akan membuat anak lebih proaktif dalam mengatasi masalah (misalnya menghindaribullying). Dan yang lebih penting adalah meningkatkan kesadaran seluruh anggota sekolah akan fakta adanya perbedaan individual, meningkatkan keterampilan dan dukungan dalam belajar/emosi/sosial pada anak berkebutuhan khusus, sehingga akan tercipta sebuah situasi yang kondusif dalam mendukung proses pembelajaran bagi semua anak berkebutuhan khusus dalam jangka panjang.
Sebagaimana yang dimaklumi bahwa guru merupakan orang yang berperan penting (significant others) dalam proses pembelajaran anak. Kode etik guru menyatakan adanya kewajiban pada guru untuk meningkatkan kompetensi semua peserta didik secara objektif, tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu peserta didik dalam pembelajaran. Karena itu jelas semua guru harus berusaha mengakomodasi peserta didik berkebutuhan khusus di kelas. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa menangani pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus ini membutuhkan tenaga, waktu, atau kreativitas yang lebih banyak dibanding menangani peserta didik normal. Hal ini tentu akan memicu stress bagi guru yang bersangkutan. Karena itu, guru perlu mempunyai ketrampilan khusus dalam kelas, seperti manajemen kelas untuk mengatasi kelas yang terganggu oleh ulah murid hiperaktif/agresif, atau relaksasi setiap kali frustasi pada kelambatan dalam proses belajar peserta didik autis atau disleksia.
Kondisi masyarakat yang kurang memahami perkembangan anak membuat ABK tidak tertangani secara dini. Umumnya, deteksi dini gangguan pada anak baru terjadi setelah anak memasuki sekolah dasar; yaitu pada saat guru mengamati adanya perbedaan peserta didik dalam pembelajaran atau perilaku dibanding dengan teman di kelas. Karena itu, penting bagi seorang guru untuk dapat memberikan tanggapan atas perbedaan peserta didik.
Menurut Mercer (1983) bahwa sebelum mengajar, guru harus:
1. Mampu memahami bagaimana sebuah hambatan pada diri peserta didik dapat mempengaruhi hasil belajar, misalnya bagaimana gangguan sensori motorik dapat membuat anak sulit menggambar bentuk tertentu di kelas kesenian, anak dengan gangguan hernia atau asma akan sakit jika lari atau melakukan loncatan di kelas olahraga
2. Mengenali hambatan dan mengembangkan pengalaman belajar yang tersendiri, misalnya untuk anak autis atau disleksia diajari kata benda dengan melemparkan bola yang berisi kata timbul benda atau membuat bentuk dari benda yang dipelajari
3. Memberikan perintah yang bersifat pribadi bagi anak berkebutuhan khusus misalnya mendekati tempat duduk peserta didik dengan gangguan pendengaran, memberi perintah duduk sambil menuntun anak hiperaktif duduk
4. Memahami emosi pada peserta didik yang mengalami hambatan seperti sedih atau marah jika tidak dapat mengerjakan tugas di kelas, atau diejek karena kurang menguasai beberapa ketrampilan yang sudah dikuasai teman-temannya
5. Menggunakan layanan dan dukungan dari pihak mana pun, misalnya memberikan pekerjaan rumah yang melibatkan bantuan orang tua atau teman dalam mengajarkan materi tertentu, atau mengikutkan peserta didik yang pencemas atau cengeng dalam ekstrakulikuler menari yang dapat membantu meningkatkan endorphin sehingga emosi anak akan lebih positif
6. Mengkomunikasikan hambatan peserta didik pada orang tua secara efektif sehingga orang tua dapat menerima kondisi anak dengan baik, tidak cemas atau malah marah berlebihan, dan dapat bekerja sama menangani anak yang bersangkutan
Jika guru mencurigai adanya hambatan atau kondisi khusus pada peserta didik, maka ia harus melakukan penilaian secara mendalam. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan beberapa variasi metode pembelajaran, memberikan instruksi atau materi dengan cara berbeda. Kemudian, guru harus mendiskusikan keadaan anak dengan orang tua, kepala sekolah, dan konselor sekolah. Kemudian bersama konselor/guru bimbingan konseling di sekolah, guru melakukan program layanan intervensi dan pencegahan untuk meningkatkan perkembangan anak, termasuk diantaranya kepercayaan diri, tanggung jawab, kemandirian, juga keterampilan sosial dan komunikasi.
Selanjutnya, perlu strategidan metode pembelajaran yang tepat dalam belajar mengajar sebagai alternatif solutif dalam mengatasiABK. Misalnya strategi pembelajaran kooperatif untuk membangkitkan motivasi belajar ABK, meningkatkan prestasi belajar, meningkatkan retensi (daya ingat), dan meningkatkan kemampuan menjalin hubungan antar manusia, dan lain lain.
Guru perlu meningkatkan kualitas rancangan proses pembelajaran yang lebih banyak menekankan kepada pengembangan “pembelajaran” daripada “pengajaran”. Berbagai variasi metode pembelajaran sebaiknya diterapkan agar lebih menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang lebih kondusif, aktif, kreatif dan menyenangkan, sehingga pada akhirnya dapat mengatasi siswa yang diidentifikasi sebagai ABK di sekolah reguler.
Biodata Penulis:
Nama : Adhyatnika Geusan Ulun, S.Pd., M.Pd
Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 6 Agustus 1971
Pekerjaan : Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Cipongkor,
Bandung Barat
Alamat : Jl. Mahar Martanegara No. 78 RT 04 RW
05 Kel. Utama Kec. Cimahi Selatan
Kota Cimahi 40533
Telp. : 082115033120

KECERDASAN MAJEMUK/MULTIPLE INTELLIGENCIES DALAM DUNIA ANAK

Minggu, 30 Oktober 2016


Teori tentang Kecerdasan Majemuk ini bergema sangat kuat di kalangan pendidik karena menawarkan model untuk bertindak sesuai dengan keyakinan bahwa semua anak memiliki kelebihan. Garner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: Teori Multiple Intelegences tahun 1983 mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah suatu menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya. Pada mulanya Howard Gardner menyatakan ada tujuh jenis kecerdasan.
  1. Kecerdasan Bahasa atau linguistik: terdiri dari kemampuan untuk berfikir dalam kata-kata, dan meggunakan bahasa untuk mengungkapkan dan mengapresiasi makna yang komplek. Pekerjaan yang sesuai bidang ini: penulis, penyair, jurnalis, pembicara,penyiar warta berita dll.
  2. Kecerdasan Logika matematika: kemampuan untuk menghitung, mengukur, mempertimbangkan dalil atau rumus, hipotesis dan menyelesaikan operasi matematik yang kompleks. Ilmuan, ahli matematika, akuntan, ahli mesin dan programmer computer, semua menunjukkan kecerdasan matematik yang kuat.
  3. Kecerdasan Intrapersonal: merujuk pada kemampuan untuk membangun anggapan yang tepat pada seseorang dan untuk menggunakan sejenis pengetahuan dalam merencakan dan mengarahkan hidup seseorang. Beberapa orang yang menunjukkan kecerdasan ini adalah teolog, psikolog, filsuf.
  4. Kecerdasan interpersonal: kemampuan untuk memahami orang dan membina hubungan yang efektif dengan orang lain. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh guru, para pekerja sosial, actor, atau politisi.
  5. Kecerdasan Musik atau musikal: kepekaan terhadap titinadamelodiirama dan nada.Orang yang menunjukan kecerdasan ini adalah komposerdirigenmusisikrtikus, pengarang musik, bahkan pendengar musik.
  6. Kecerdasan Visual dan Kecerdasan Spasial: kemampuan untuk mengindera dunia secara akurat dan menciptakan kembali atau mengubah aspek-aspek dunia tersebut.Kecerdasan ini seperti yang tampak pada keahlian pelautpilotpemahatpelukis dan arsitek.
  7. Kecerdasan kinestetik: kemampuan untuk menggunakan tubuh dengan trampil dan memegang objek dengan cakap Kecerdasan ini ditunjukkan oleh para atletpenari,ahli bedahmasyarakat pengrajin.
Kemudian sesuai dengan perkembangan penelitiannya, pada tahun 1990-an, Howard Gardner memasukkan kecerdasan yang ke delapan yaitu kecerdasan alamiah(naturalis).
8. Kecerdasan Alam atau Kecerdasan Naturalis: kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasi aneka spesies, tumbuhan atau flora dan hewan fauna, dalam lingkungan. AhliBiologi, pecinta alam, penjelajah alam.dll.
Menurut Howard Gardner, semua orang unik dan semua orang memiliki caranya sendiri untuk memberikan kontribusinya bagi budaya dalam sebuah masyarakat.Dalam penelitiannya tentang kapasitas(kemampuan) manusia, ia menetapkan kriteria yang mana kriteria tersebut mengukur apakah bakat seseorang benar-benar merupakan kecerdasan. Setiap kecerdasan pastinya memliki ciri-ciri perkembangan, dapat diamati bahkan dalam kasus khusus seperti sebuah kejadian ajaib pada penderita idiot atauautis savant, mereka semua membuktikan adanya pemusatan pada otak dan menciptakan sebuah rangkaian simbol dan notasi. Howard Gardner menyatakan bahwa setiap orang memiliki semua komponen (spectrum) kecerdasan, memiliki sejumlah kecerdasan yang tergabung yang kemudian secara personal menggunakannya dalam cara yang khusus. Howard Gardner telah memecahkan teori tradisional tentang kecerdasan yang telah melekat menjadi dua keyakinan dasar masyarakat, bahwa kemampuan seseorang adalah sebuah kesatuan dan bahwa semua individu cukup digambarkan dengan sebuah kecerdasan tunggal yang dapat diukur. Howard Gardner menilai teori ini berfokus secara berlebihan pada kecerdasan linguistik dan matematik sehingga menghambat pentingnya mengetahui tentang bentuk kecerdasan yang lain.Banyak siswa yang gagal menunjukkan prestasi akademiknya dikategorikan dalam penghargaan yang rendah atau low esteem dan kemampuan mereka(yang sebenarnya) menjadi tidak terlihat/muncul/terjadi dan hilang dari sekolah dan bahkan dari masyarakat secara luas.
Howard Gardner melihat kecerdasan sieseorang dalam sebuah nilai dan tes yang terstandard, ia mendefinisikan kecerdasan sebagai:
  1. Kemapuan seseorang untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan dalam kehidupan nyata.
  2. Kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk diselesaikan.
  3. Kemampuan untuk menghasilkan sesuatu (produk) aau menawarkan sebuah pelayanan yang dihasilkan dari kebudayaannya
Sumber: Wikipedia.com

ANALISIS KONTEK SMP NEGERI 1 CIPONGKOR BANDUNG BARAT TAHUN PELAJARAN 2015/2016


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi ideal sekolah menurut Standar Nasional Pendidikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005, yang meliputi delapan ( 8 ) standar, yaitu ; 1. Standar Isi, 2. Standar Kompetensi Lulusan, 3 Standar Proses, 4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 5. Standar Pengelolaan, 6. Standar Sarana, 7. Standar Pembiayaan dan 8. Standar Penilaian.
Dari delapan standar Nasional Pendidikan sekolah berusaha dengan sekuat tenaga untuk dapat memenuhinya. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkait dengan kriteria minimal tentang ruang belajar,berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perecanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/ kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahu.
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.Tetapi kondisi riil sekolah sangat erat hubungannya dengan keuangan yang hanya tergantung dari dana sumbangan orang tua siswa, sementara siswa SMPN 1 Cipongkor tidak banyak dan kemampuan ekonomi orang tuanya kebanyakan menengah ke bawah, maka sangat sulit untuk mencapai kondisi ideal, terutama untuk standar Sarana. Upaya yang dilakukan sekolah agar dapat mencapai kondisi ideal adalah selalu berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik, sehingga melalu pelayanan yang baik diharapkan menjadi media promosi yang efektif dan menyebabkan SMPN 1 Cipongkor menjadi sekolah pilihan masyarakat di Bandung Barat dan sekitarnya. Dengan jumlah siswa yang banyak dan ekonomi rendah ke menengah berkecukupan, maka upaya mencapai delapan standar Nasional pendidikan dapat tercapai.


B. Dasar Kebijakan
Dasar kebijakan penyusunan laporan hasil analisis konteks adalah:
1.    Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2.    Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
3.    Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Wewenang antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota;
4.    Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang PembiayaanPendidikan;
5.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi;
6.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetisi Lulusan;
7.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006;
8.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 6 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006;
9.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah;
10.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru;
11.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan;
12.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian;
13.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Standar Proses;
14.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Kualifikasi dan Kompetensi Konselor;
15.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan;
16.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 69 Tahun 2009 tentang Standar Biaya;
17.     Panduan Penyusunan KTSP yang dikembangkan oleh BSNP Tahun 2006.

C. Tujuan dan manfaat
Tujuan pembuatan laporan hasil analisis konteks adalah ;
1. Mengetahui sejauh mana pencapaian sekolah dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Standar nasional Pendidikan
2. Menguraikan kondisi riil sekolah dalam upaya mencapai 8 (delapan) standar nasional pendidikan
3. Menyampaikan informasi kepada yang terkait untuk mengambil kebijakan kepada SMPN 1 Cipongkor.

Manfaat dari laporan hasil anlisis konteks adalah sebagai salah satu bahan pertimbangan Tim Pengembang Kurikulum (TPK) SMPN 1 Cipongkor untuk menyusun dokumen 1 Kurikulum SMPN 1 Cipongkor Tahun Pelajaran 2016/2017.


BAB II
ANALISIS STANDAR KONTEKS

A.    Analisis Standar Nasional Pendidikan

1.      Analisis Standar Isi

KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT
1.Kerangka Dasar Kurikulum
1.      Kelompok mata pelajaran
·  Membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia
Melakukan kebiasaaan doa untuk memulai belajar (pagi) dan sesudah proses pembelajaran,Sholat jama’ah,Kultum siswa, mengadakan perayaan HBI,Doa bersama,Sholat lail,pemberantasan buta baca Al-Qur’an
 Melaksanakan secara rutin

a.    Agama dan akhlak mulia
·  Peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara serta peningkatan kualitas diri sebagai manusia.











Lebih mengefektifkan pembimbingan tadarus Al-Qur’an tiap hari sebelum dimulai KBM + 10 menit
KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT












































b.    Kewarganegaraan dan budi pekerti

Kembangkan solidaritas dengan mengikuti kegiatan kemasyarakatan diantaranya : melakukan kegiatan sosial, bakti sosial, upacara peringatan hari besar kenegaraan.
· Mengefektifkan 3S(Senyum Salam,Sapa)




Pelaksanaan perlu secara konsisten






KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT












·  Memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatis dan mandiri.
Menerapkan diskusi kelompok dalam pembelajaran
Mengefektifkan pemanfaatn perpustakaan, internet sebagai sumber belajar siswa serta menambah buku-buku pegangan siswa 

c. Ilmu pengetahuan dan teknologi

Penyediaan buku-buku sebagai sumber belajar  diperpustakaan dan pemanfaatan internet belum efektif.



·  Meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni.

Memperbanyak kelompok-kelompok belajar




Membentuk kelompok paduan suara yang lebih solid



Memanfaatkan limbah menjadi suatu barang yang bernilai seni
Mengaktifkan serta membentuk grup karawitan siswa/guru



Latihan olah vokal, tetapi belum tampak grup yang solid, unjuk kemampuan masih pada momen-momen PSB.




KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT






d.        Estetika

Seni tradisional karawitan belum dapat berjalan dengan efektif




Pemilihan bakat tidak berdasar atas talent skouting,sehingga belum jelas bakat yang sebenarnya dari siswa 




Masih banyak siswa yang tidak memiliki bakat/minat tertentu




Pemberian kesempatan kepada siswa/siswi pada minat yang diinginkannya



·  Meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin kerja sama dan hidup sehat.

Pemilihan bakat/minat berdasar atas angket dan talent scouting




Diarahkan pada kegiatan-kegiatan ketrampilan tertentu


a.  Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya




.
Pembinaan logika berpikir (proses teori)

KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT








b. Beragam dan terpadu
Praktek (kegiatan keorganisasian)
Analisa minat peserta didik.




Psikotes


c.  Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Terbuka akan perkembangan teknologi




Sesuai dengan kondisi fasilitas yang ada


e.    Jasmani, olahraga dan kesehatan
d. Relevan dengan kebutuhan hidup
Ya
Kegiatan apresiasi


e.  Menyeluruh dan berkesinambungan




f.  Belajar sepanjang hayat
Ya
Pemanfaatan alat teknologi.


g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah




Mengacu pada tujuan pendidikan pada umumnya
Peningkatan daya dukung
KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT






2.      Prinsip pengembangan kurikulum


Pemahaman tujuan pendidikan.

3.       
KTSP dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta  panduan penyusunan KTSP yang disusun oleh BSNP
Dalam pengembangan KTSP belum memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum terutama prinsip   perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Dilakukan review  dokumen KTSP sehingga memenuhi setiap prinsip pengembangan kurikulum khususnya prinsip   perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya

3. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
a.     Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.
a. Peserta didik belum maksimal mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
a.  Peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan


b. Penegakkan kelima pilar belajar dalam pelaksanaan kurikulum belum maksimal






KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT







b.     Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar

b.   Perlu peningkatan pelaksanaan lima pilar belajar yaitu



(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,



(b) belajar untuk memahami dan menghayati,



(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,



 (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan

























KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT



























(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif kreatif, efektif, gembira dan menyenangkan.

c.    Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang maksimal sesuai dengan kondisi peserta didik
c. Pelaksanaan kurikulum masih klasikal dan belum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang maksimal sesuai dengan kondisi peserta didik
c.   Pelayanan terhadap peserta didik  sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi kemandirian,penguatan akhlak, dan jiwa sosial,










KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT














d.Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik dalam suasana yang formal


d.    Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik dalam suasana yang kondusif

d.  Perlu ditingkatkan hubungan antara peserta didik danm pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).














KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT

















e.     Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan dengan memperhatikan perkembangan yang berkiblat pada era globalisasi dengan mendekatan yang berbasis pada perkembangan teknologi dan berbasis pada alam sekitar
e. Pelaksanakan kurikulum belum maksimal menggunakan pendekatan dengan memperhatikan perkembangan yang berkiblat pada era globalisasi dengan pendekatan yang berbasis pada perkembangan teknologi dan berbasis pada alam sekitar
e.   Pendekatan perlu ditingkatkan dalam hal pendekatan terhadap peserta didik adalah pendekatan yang multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

f.Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi yang sesuai dengan kultur budaya di lingkungan sekolah



g.  Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran
f.  Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi yang sesuai dengan kultur budaya di lingkungan sekolah
f.    –


g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran







g.   -
KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT









a. Terdiri atas 10 mata pelajaran, 2muatan lokal, dan 10 pengembangan diri
a.       Terdiri atas 10 mata pelajaran, muatan lokal bahasa Sunda, dan pengembangan diri



b.      Alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 45 menit



c.       Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 46 minggu

































KOMPONEN
DESKRIPSI
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
RENCANA TINDAK LANJUT
2. Struktur Kurikulum

































































1. Kurikulum kelas VII, VIII, IX
b.   Alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 40 menit

Hari Sabtu lebih dimanfaatkan untuk kegiatan Pengembangan Diri Ekstrakurikuler Seni,Olahraga Prestasi dan Imtaq
c.    Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 46 – 47  minggu

Diadakan Workshop untuk penguatan pelaksanaan program pembelajaran.
a.    terdiri atas 10 mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri


b.   Alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 40 menit


c.    Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 46 – 47 minggu



b.    Alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 40 menit
Dipertahankan

c.     Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 46 minggu

Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu adalah 34 s.d. 40  jam pembelajaran
Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu adalah 34-40  jam pembelajaran

Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.


Kegiatan : Minggu efektif  belajar, Jeda tengah semester, Jeda antarsemester, Libur akhir tahun pelajaran, Hari libur keagamaan, Hari libur umum/nasional, Hari libur khusus, Kegiatan khusus sekolah/madrasah
Dibuat berdasarkan atas Kalender Pendidikan dari Disdikpora Provinsi Jawa


3. Beban Belajar
1.    Jumlah Jam pelajaran Setiap minggu
a.    Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli dan berakhir pada bulan juni tahun berikutnya
a.     Permulaan tahun pelajaran adalah tanggal 16 Juli dan berakhir pada bulan 30 juni tahun berikutnya

2.    Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik
b.   Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama, Kepala Daerah tingkat kab/kota, dan/atau organisasi penyelenggara dapat menetapkan hari libur khusus
b.    Hari libur sekolah mengikuti ketentuan dari pemerintah pusat/pemerintah daerah , dan sekolah  menetapkan hari tidak efektif untuk KBM/ insidental Sekolah

4.Kalender Pendidikan
3.    Alokasi Waktu
c.    Pemerintah Pusat/Provinsi/kabupaten/kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan
c.    Kalender pendidikan disusun oleh sekolah berdasarkan alokasi waktu pada SI dengan memperhatikan ketentuan pemerintah/pemerintah daerah

4.   Penetapan Kalender Pendidikan
d.   Kalender pendidikan disusun oleh sekolah berdasarkan alokasi waktu pada SI dengan memperhatikan ketentuan pemerintah/pemerintah daerah













2.      Analisis Standar Kompetensi Lulusan

No

SKL SATUAN PENDIDIKAN
SKL KELOMPOK MAPEL
SKL KELOMPOK MAPEL

KET.
1



Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja
·     Agama dan Akhlak Mulia
·    Pend. Agama
·    PKn

2
Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya

·     Agama dan Akhlak Mulia
·    PKn
·    Pend. Agama

3
Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya

·     5 kelompok mapel
·    Semua Mapel

4
Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial
·     Iptek
·    Sejarah
·    Ekonomi
·    Geografi

5
Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global
·     Agama dan Akhlak Mulia
·     Kewraganegaraan dan Kepribadian
·     Iptek
·    Agama
·    PKn


6
Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif
·     Iptek
·    Semua mapel Iptek

7
Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan
·     Iptek
·    Semua mapel Iptek

8
Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri
·     5 kelompok mapel
·    Semua mapel

9
Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik
·     5 kelompok mapel
·    Semua mapel

10
Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah  kompleks
·     Iptek
·    Semua mapel iptek

11
Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan social
·     Iptek
·    Semua mapel iptek

12
Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
·     Agama dan Akhlak Mulia
·     Iptek
·     Kewarganegaraan dan Kepribadian
·    Pend. Agama
·    Semua mapel iptek
·    PKn

13
Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
·     Kewarganegaraan dan Kepribadian
·    PKn

14
Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
·     Estetika
·    Seni budaya

15
Mengapresiasi karya seni dan budaya
·     Estetika
·    Seni budaya

16
Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok
·     Estetika
·     Iptek
·    Seni budaya
·    Ketrampilan

17
Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan
·     Penjasorkes
·    Penjasorkes

18
Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun
·     Iptek
·    Bahasa Indonesia
·    Bahasa  Inggris
·    Mulok B. Sunda

19
Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat
·     Kewarganegaraan dan Kepribadian
·     Iptek
·    PKn
·    Sosiologi

20
Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain
·     Agama dan Akhlak Mulia
·     Iptek
·     Kewarganegaraan dan Kepribadian
·    Pend. Agama
·    PKn

21
Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis
·     Iptek
·     Estetika
·    Bahasa Indonesia
·    Bahasa Asing
·    Mulok B. Sunda
·    Seni budaya

22
Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris
·     Iptek
·    Bahasa Indonesia
·    Bahasa Asing
·    Mulok B. Sunda

23
Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi
·     Iptek
·    Semua mapel iptek








3.      Analisis Standar Proses
NO
KOMPONEN
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
TINDAK LANJUT
I
PERENCANAAN

A.   Silabus
Pada Silabus harus memuat:
1.   Identitas mata pelajaran ,SK KD, Kegiatan Pembelajaran, Indikator ketercapaian, Penilaian, Alokasi Waktu, Sumber/Bahan/Alat.
2.    Penyusunan silabus berdasarakan hasil pemetaan Standar Isi.
Dalam pengembangan silabus guru sudah melakukan analisis SK-KD, tetapi belum menyeluruh.
Dalam penyusunan silabus guru sudah menyusun silabus  secara mandiri  tetapi belum menyeluruh
Diprogramkan bimbingan dan pendampingan teknik membuat silabus mulai dari analisis SI sehingga seluruh guru dapat menyusun silabus secara mandiri sesuai karakteristik satuan pendidikan
B.   RPP
1.    RPP memuat: Identitas MP,  SK, KD Indiator Pencapaian, tujuan, Alokasi Waktu , Metode Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Penilaian belajar, dan  sumber belajar.
2.    Pada tahapan kegiatan pembelajaran terdiri dari tahapan: pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
3.    Mengacu pada prinsip-prinsip penyusunan RPP.
Masih ada beberapa guru menyusun RPP tidak melampirkan instrumen penilaian dan atau soal yang tercantum belum RPP tidak relevan tujuan pada RPP.
Diadakan pendampingan dan bimbingan pembuatan RPP, sehingga RPP yang dibuat guru sesuai standar
II
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

A.    Persyaratan Pelaksanaan




§  Rombongan Belajar

Jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan be­lajar adalah 32 peserta didik.
Jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan be­lajar adalah 10-22 peserta didik.
Perlu meningkatkan jejaring untuk memenuhi standar, kelas setiap rombel  32 peserta didik

§  Beban kerja minimal guru
beban kerja guru sekurang-kurang nya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu
90 % beban kerja guru mencapai 24 jam tatap muka dengan memenuhi di sekolah lain
Mendorong guru untuk mememenuhi 24 jam dari sekolah lain

§  Buku teks pelajaran
rasio buku teks pelajaran untuk peserta didik adalah 1 : 1 per mata pelajaran;
Rasio buku tek pelajaran untuk peserta didik belum mencapai perbandingan 1 : 3
 Mengajukan kebutuhan buku pegangan siswa dalam RAPBS

§  Pengelolaan kelas
-   guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan keputusan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran









-   pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran

-   Sebagian besar dapat guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan keputusan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran





-   Sebagian besar guru menyampaikan silabus mata pelajaran pada tiap awal semester

-   Guru yang belum dapat menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan keputusan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran perlu pembinaan dan pelatihan pengelolaan dan manajemen kelas melalui forum MGMP
-   Perlu pengecekan oleh waka kurikulum/  pengajatran pada guru agar guru menyampaikan silabus mata pelajaran pada tiap awal semester


B.     Pelaksanaan Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
§   Pendahuluan
-     Penyampaian tujuan
-     Motivasi
§   Kegiatan inti
-     eksplorasi
-     elaborasi
-     konfirmasi
§   Penutup
-     Rangkuman
-     Penialaian/refleksi
-     Umpan balik
-     Tugas
Masih ada  guru  melaksanakan pembelajaran belum sesuai dengan RPP, dalam kegiatan inti pembelajaran masih menggunakan form lama.
Dalam kegiatan pembelajaran guru wajib membawa RPP sebagai kontrol dalam pelaksanaan pembelajaran dan perlu mengoptimalkan MGMP untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran.
Perlu ada workshop untuk penyusunan RPP sesuai dengan format yang sudah sesuai dengan format baku yang ditetapkan
III
PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN
§  Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai hahan penyusunan laporan kema­juan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Hasil penilaian pembelajaran tidak dilakukan analisis sebagai bahan acuan dalam program perbaikan proses pembelajaran bagi guru.
Setiap guru diwajibkan untuk melakukan analisis hasil ulangan harian dan analisis butir soal serta implementasi dalam tugas penilaian oleh guru
IV
PENGAWASAN PROSES PEMBELAJARAN
1.  Pemantauan
a.       Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada ta­hap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.
b.      Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawan­cara, dan dokumentasi.

c.        Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan
Pemantauan dilaksanakan oleh Kepala Sekolah dan Kurikulumn dengan pengumpulan dan penandatangan perangkat pembelajaran pada awal semester
Pemantauan dilaksanakan dengan cara diskusi, wawancara, dan dokumentasi.
Pemantauan dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas satuan pendidikan
Peningkatan kerjasama antara sekolah dengan Pengawas Satuan dalam melaksanakan pemantauan proses pembelajaran pada saat awal semester

 Peningkatan frekuensi pemantauan
oleh pengawas pendidikan.


2. Supervisi
a. Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pem­belajaran.
b. Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi.

c. Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan penga­was satuan pendidikan.

Supervisi proses dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Tim Supervisi minimal satu kali setiap semester
Supervisi pembelajaran dilakukan dengan diskusi, dan konsultasi
Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala sekolah / guru senior dan pengawas satuan pendidikan
Pengawas perlu melaksanakan supervisi secara berkala dan dapat memberi contoh pembelajaran yang efektif bagi guru
Perlu pemberian contoh oleh guru sejenis atau kepala sekolah
Perlu peningkatan frekuensi supervisi dari  pengawas satuan pendidikan


3. Evaluasi
    a.    Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk me­nentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.


     b.  Evaluasi proses pembelajaran de­ngan cara:
1)      membandingkan proses pembelajaran yang dilak­sanakan guru dengan standar proses,
2)    mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pem­belajaran sesuai dengan kompetensi guru.


Evaluasi proses pembelajaran dilaksanakan setiap semester satu kali dalam bentuk rapat koordinasi Kepala Sekolah   dengan menggunakan pedoman standar proses
Belum semua guru melakukan Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan cara membandingkan proses yang dilakukan guru dengan standar
Kinerja Guru yang belum sesuai standar dapat dilakukan supervisi klinis agar guru dapat mengatasi permasalahan pembelajaran


Mewajibkan semua guru untuk melaksanakn evaluasi proses sesuai standar.


4. Pelaporan
Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran dilaporkan kepada pemangku ke­pentingan.
Pelaporan dilaksanakan oleh Pengajaran kepada Kepala Sekolah
Perlaporan Hasil Supervisi pembelajaran perlu disampaikan kepada pengawas untuk pembinaan guru dan satuan pendidikan





5. Tindak lanjut
       a.   Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar.
       b.   Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar.
       c.   Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/pe­nataran Iebih lanjut.

Satuan Pendidikan belum memberikan penghargaan kepada guru yang telah memenuhi standar dan belum melakukan pembinaan optimal bagi guru yang belum memenuhi standar

Perlu reward dan punisment bagi guru yang telah memenuhi standar dan yang belum memenuhi standar





4.      Analisis Standar Pengelolaan
No
Kriteria setiap Komponen
Kesesuaian dengan Kriteria
Analisis Penyesuaian/ Pemenuhan
Alokasi Program
Ya
Tidak
1
2
I
KEPALA SEKOLAH






1
Kualifikasi minimal
V





2
Usia Maksimal
V





3
Pengalaman mengajar minimal
V





4
Pangkat minimal
V





5
Status Guru (Guru SMA)
V





6
Kepemilikan sertifikat pendidik
V





7
Kepemilikan sertifikat kepala sekolah
V





8
Kompetensi kepribadian
V





9
Kompetensi manajerial
V





10
Kompetensi kewirausahaan
V





11
Kompetensi supervisi
V





12
Kompetensi sosial
V




II
WAKIL KEPALA SEKOLAH






1
Jumlah minimal
V





2
Kriteria pengangkatan wakasek
V





3
Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki:






Wakasek Bidang Kurikulum






a.  kemampuan memimpin
V





b.  kepemilikan keterampilan teknis
V





c.  kemitraan dan kerjasama
V





Wakasek Bidang Kesiswaan






a.  kemampuan memimpin
V





b.  kepemilikan keterampilan teknis
V





c.  kemitraan dan kerjasama
V





Wakasek Bidang Ssarana Prasarana






a.  kemampuan memimpin
V





b.  kepemilikan keterampilan teknis
V





c.  kemitraan dan kerjasama
V





Wakasek Bidang Humas






a.  kemampuan memimpin
V





b.  kepemilikan keterampilan teknis
V





c.  kemitraan dan kerjasama
V





Wakasek Bidang Ismuba






a.      Kemampuan memimpin
V





b.    Kepemilikan ketrampilan teknis
V





c.    Kemitraan dan Kerjasama
V





5.         Analisis Standar Penilaian
NO
KOMPONEN
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
KESENJANGAN
RENCANA
TINDAK LANJUT

1



Prinsip penilaian
(sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, dan akuntabel)

Semua RPP mencantumkan kegiatan dan program penilaian

RPP yang mencantumkan kegiatan dan program penilaian sekitar 67 %

Sekitar 33 % RPP belum mencantum-kan kegiatan dan program penilaian

Kepala Sekolah melakukan supervisi dengan cara berdiskusi dan memberi contoh kepada guru-guru yang belum mencantumkan kegiatan dan program penilaian dalam RPP

Guru melengkapi RPP

2

Teknik dan Instrumen Penilaian


Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi
persyaratan substansi,  konstruksi, dan bahasa.

Sebagian guru telah melaksanaan penelaahan instrumen penilaian hasil belajar

Sebagian besar guru belum melaksanaan penelaahan instrumen penilaian hasil belajar

Sekolah menyiapkan format penelaahan butir soal dan meminta semua guru melakukan telaah butir soal sebelum diujikan kepada peserta didik
3
Mekanisme dan Prosedur Penilaian
a.   Rancangan penilaian dari silabus yang penjabarannya merupakan bagian RPP
b.    UH,UTS, UAS, UKK dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi Satuan Pendidikan
c.    Penilaian UN dan Usek adalah salah satu syarat kelulusan
d.   Penil hasil belajar kelompok estetika dan kelompok perjasorkes ditentukan melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian pendidik
e.    Penil hasil belajar kelompok agama dan akhlag mulya dan kelompok kewarganegaraan dan kepribadian ditentukan melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian pendidik dengan memperhatikan hasil ujian sekolah
f.     Kegiatan Ujian Sekolah (menyusun kisi-kisi, mengembangkan instrumen, melaksanakan ujian, mengolah dan menentukan kelulusan, melaporkan hasil ujian)
g.    Penil muatan lokal mengikuti penil kelompok mata pelajaran yang relevan.
h.    Kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan surat keterangan pembina dan KS
i.      Hasil UH harus dikembaliakan kepada siswa sebelum UH berikutnya, yang belum tuntas mengikuti pembel remidi

a.     Rancangan penilaian dari silabus yang penjabarannya merupakan bagian RPP
b.    UH,UTS, UAS, UKK dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi Satuan Pendidikan
c.    Penilaian UN dan Usek adalah salah satu syarat kelulusan
d.   Penil hasil belajar kelompok estetika dan kelompok perjasorkes ditentukan pendidik
e.   Penil hasil belajar kelompok agama dan akhlag mulya dan kelompok kewarganegaraan dan kepribadian ditentukan pendidik
f.     Kegiatan Ujian Sekolah (menyusun kisi-kisi, mengembangkan instrumen, melaksanakan ujian, mengolah dan menentukan kelulusan, melaporkan hasil ujian)
g.    Penil muatan lokal mengikuti penil kelompok mata pelajaran yang relevan.
h.    Kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan nilai pada LHBS
i.      60 % guru memberikan hasil UH kepada siswa sebelum UH berikutnya, yang belum tuntas mengikuti pembel remidi

a.  -
b.    -
c.    -
d.   Penil hasil belajar kelompok estetika dan kelompok perjasorkes  belum sesuai pedoman
e.   Penil hasil belajar kelompok agama dan akhlag mulya dan kelompok kewarganegaraan dan kepribadian belum sesuai pedoman
f.     -
g.    -
h.    Kegiatan pengembangan diri belum dibuktikan dengan surat keterangan
i.      40 % guru belum memberikan hasil UH kepada siswa sebelum UH berikutnya, yang belum tuntas mengikuti pembel remidi

a.      -
b.    -
c.    -
d.   Perlu sosialisasi dan pemahaman kepada guru ttg Penil hasil belajar kelompok estetika dan kelompok perjasorkes
e.   Perlu sosialisasi dan pemahaman kepada guru tt Penil hasil belajar kelompok agama dan akhlag mulya dan kelompok kewarganegaraan dan kepribadian
f.     -
g.    -
h.    Kegiatan pengembangan diri perlu dibuktikan dengan surat keterangan
i.      KS menghimbau guru untuk memberikan hasil UH kepada siswa sebelum UH berikutnya, yang belum tuntas mengikuti pembel remidi

4
Penilaian oleh Pendidik
a.    menginformasikan silabus pada awal semester kepada siswa
b.    Melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, atau bentuk lain
c.     Mengolah hasil penil untuk mengetahui kemajuan dan kesulitan belajar siswa
d.    Mengembalikan hasil pekerjaan siswa disertai komentar yang mendidik
e.     Memanfaatkan hasil penil untuk perbaikan pembel
f.     Melaporkan hasil belajar siswa setiap akhir semester
a.       menginformasikan silabus pada awal semester kepada siswa
b.      Melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, atau bentuk lain
c.       Mengolah hasil penil untuk mengetahui kemajuan
d.      Mengembalikan hasil pekerjaan siswa
e.       Memanfaatkan hasil penil untuk perbaikan pembel
f.     Melaporkan hasil belajar siswa setiap akhir semester
a.       -
b.      -
c.       Mengolah hasil penil untuk mengetahui kesulitan belajar siswa
d.      Mengembalikan hasil pekerjaan siswa belum disertai komentar yang mendidik
e.       -
f.     -
a.       -
b.      -
c.       Dilaksanakan pendampingan Guru dlm Mengolah hasil penil untuk mengetahui kesulitan belajar siswa
d.      Guru diingatkan untuk memberi komentar yang mendidik saat mengembalikan hasil pekerjaan siswa
e.       -
f.     -
5
Penilaian oleh Satuan Pendidikan
a.     Menentukan KKM melalui rapat dewan pendidik
b.    Mengkoordinasikan pelaks UTS, UAS, UKK
c.    Menentukan kriteria kenaikan kelas melalui rapat dewan pendidik
d.   Menentukan program pembel SKS melalui rapat dewan pendidik
e.    Menentuka penil 4 kelompok mata pelajaran melalui rapat dewan pendidik



f.     Menyelenggarakan US dan menentukan kelulusan sesuai  POS
g.    Melaporkan hasil penil mata pelajaran kepada orang tua/wali dalam bentuk LHBS
h.    Melaporkan pencapaian hasil belajar kepada Disdik kab
i.      Menerbitkan SKHUN
j.      Menerbitkan Ijazah bagi siswa yang lulus
a.   Menentukan KKM melalui rapat dewan pendidik
b.  Mengkoordinasikan pelaks UTS, UAS, UKK
c.  Menentukan kriteria kenaikan kelas melalui rapat dewan pendidik
d.   Sekolah belum menentukan program pembel SKS
e.    Menentuka penil 4 kelompok mata pelajaran oleh pendidik





f.    Menyelenggarakan US dan menentukan kelulusan sesuai  POS
g.   Melaporkan hasil penil mata pelajaran kepada orang tua/wali dalam bentuk  LHBS
h.    Melaporkan hasil kenaikkan dan kelulusan kepada Disdik kab
i.      Menerbitkan SKHUN
j.      Menerbitkan Ijazah bagi siswa yang lulus
a.      


b. 


c. 




d.   Sekolah masih katagori standar dengan pembelajaran system paket
e.    Menentuka penil 4 kelompok mata pelajaran belum melalui rapat dewan pendidik
f.   



g.  





h.    Belum melaporkan hasil pencapaian belajar tiap semester kepada Disdik kab
i.      -
j.      -
a. 


b. 


c. 




d.   Sekolah akan menuju SSN




e.    Menentuka penil 4 kelompok mata pelajaran harus melalui rapat dewan pendidik



f.   



g.  





h.    Sekolah melaporkan hasil pencapaian belajar akhir semester dua kepada Disdik KBB
i.      -
j.      -
6
Penilaian oleh Pemerintah
a.     Penil hasil belajar oleh pemerintah dalam bentuk UN
b.       Hasil UN menentukan kelulusan
a.      Penil hasil belajar oleh pemerintah dalam bentuk UN
b.       Hasil UN menentukan kelulusan
-
-









C.     Analisis  Kondisi Satuan Pendidikan
NO
KOMPONEN
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
KESENJANGAN
TINDAK LANJUT
1
Peserta Didik
Kemampuan rata-rata intake siswa minimal 7,50
Kemampuan rata-rata intake siswa minimal dibawah 6,00
Kemampuan rata-rata intake siswa masih dibawah 6,00
Pengelolaan Proses pembelajaran ditingkatkan sehingga menghasilkan output yang maksimal dengan nilai murni di atas 6,00
2
Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
100% pendidik berijazah S-1
100 % pendidik memiliki ijazah S-1

Mempermudah dan memberi bantuan kepada guru untuk melanjutkan pendidikan ke S-2
3
Sarana Prasarana
a)  RKB :luas ruang 8x9m, mebel per siswa (mdh diatur),ada LCD tetap



b)Lab TI:ber AC,Komputer 20 unit ,Printer,Laptop,LCD,Hot spot dengan bandwich yang dapat diakses oleh minimal 20 siswa secara bersamaan


c)LabIPA.:memenuhi syarat,administrasi lengkap,bersih berkeramik



d)Perpustakaan:ada kepala perpust,tenaga perpust,ada Sistem Aplikasi  Manajemen  Perpust ,ruang tertata rapi, jumlah buku siswa 100% terpenuhi,perpustakaan digital
a)RKB.:luas 8x9m, mebelair kurang 2 siswa,belum ada LCD
b) Komputer yang berfungsi 8 unit,,LCD masih mobiling dan laptop belum terpenuhi,bandwich kecil/tidak memamdai
c)Lab.IPA : belum memenuhi syarat,belum berkeramik,administrasi kurang lengkap
d)Perputakaan:belum ada kepala perpust, Manajemen perpust manual, Ruang belum tertata rapi,pengadaan buku bertahap, buku-buku baru masih sangat minim
a)Kelas belum ada LCD



b)   TI : Daya listrik,kurang 1200 watt,LCD terpasang tetap,bandwich minimal 1,5MB
c)       
c)Lantai tidak keramik,kurang bersih,administrasi belum tertib



d)Perpust:Kepala Perpust.,Softwar Sistem Aplikasi,Penempatan  buku.


-Untuk jangka 4 th ke depan minimal 33% ruang kelas dipasang LCD
-Menambah daya listrik menjadi 3200 watt,mengajukan bantuan komputer  sehingga  terpenuhi 20 unit,memasang LCD yang permanen









Memanfaatkan Softwar Sistem Aplikasi perpust dari Mahasiswa praktek,Menyiapkan tempat untuk buku-buku, pengadaan buku scr bertahap, perpust digital diprogramkan jangka panjang.
4
Pembiayaan
Terpenuhi biaya pengembangan keunggulan lokal:
a) Sarana prasarana
b) Peserta Didik
c) Pendidik
d) Tenaga Kependidikan

75% siswa kurang mampu

-  Efektifitas dana 75% siswa kurang mampu dengan mengajukan pengusulan beasiswa
-  Kebijakan skala prioritas pendanaan tetap menjadi alternatif pengelolaan dana
5
Program Sekolah
Sekolah memiliki RKJM

Sekolah memiliki RKAS
Sekolah memiliki RKJM

Sekolah memiliki RKAS
-
Lebih disempurnakan sesuai dengan kebijakan Dinas dan menyesuaikan dengan kondisi internal sekolah

D.    Analisis Kondisi Lingkungan Satuan Pendidikan
NO
KOMPONEN
KONDISI IDEAL
KONDISI RIIL
KESENJANGAN
RENCANA TINDAK LANJUT
PELUANG
TANTANGAN
1
Komite/Dewan Sekolah
Komite Sekolah berperan sebagai :
1.      Pemberi pertimbangan
2.      Pendukung finansial dan pemikiran
3.      Pengontrol transparansi dan akuntabilitas
4.      Mediator antara pemerintah dan masyarakat
Fungsi Komite Sekolah :
1.        Komitmen mutu pendidikan
2.        Melakukan kerja sama
3.        Menampung aspirasi
4.        Memberikan masukan dan rekomendasi
5.        Mendorong partisipasi
6.        Menggalang dana
7.        Melakukan evaluasi

·    Komite  sekolah memiliki potensi sebagai nara sumber dalam peningkatan mutu sekolah
·    Komite sekolah memiliki potensi membantu sekolah dalam pemenuhan sarpras yang dibutuhkan  dengan menggalang dana dari masyarakat.
·    Sekolah memprogramkan koordinasi reguler untuk setiap kegiatan dan membiasakan berkoordinasi untuk kegiatan insidental
·    Sekolah mempuyai kewenangan untuk menarik dana dari masyarakat sebagai pendukungan program sekolah

·    Periode kepengurus Komite yang ada hampir selesai
·     Isu dan Peraturan daerah tentang kebijakan pendidikan gratis
·    Komite Sekolah kurang berperan aktif dalam memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi

· Belum tampak ada pengurus baru yang lebih potensial
· Sekolah butuh dana dan komite sekolah dapat menggalang dana masyarakat namun kebijakan daerah mengharapkan yang berbeda
· Komite sekolah belum bisa selalu hadir dalam setiap koordinasi dan kegiatan sekolah
· Sekolah mempunyai kewenangan untuk menarik dana dan Komite Sekolah dapat menggalang dana, namun kebijakan tentang pendidikan gratis meghambatnya

·      Masih mempertahankan pengurus komite yang potensial,mengganti yang kurang potensial
·      Mengundang unsur komite sekolah yang berpotensi sebagai nara sumber dalam peningkatan mutu sekolah, Wakil kepala Sekolah Bidang Kurikulum
·      Mengundang pemerintah Daerah untuk duduk bersama dalam menyukseskan program sekolah yang membutuhkan dana dari masyarakat Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas
  •  
2
Dewan Pendidikan
Dewan Pendidikan berperan sebagai mitra kerja sekolah

Dan berfungsi sebagai wadah kegiatan sekolah
(Perlu checking di Keputusan Mendiknas No 044/U/2002, Lamp 1 Butir A.1.1)
Sekolah menerapkan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah

Sekolah mempunyai link yang bisa mendukung terlaksananya program

Keberadaan Dewan Pendidikan kurang disosialisasikan di sekolah-sekolah

Dewan Pendidikan belum berperan dalam kegiatan sekolah


Tidak semua anggota sekolah mengerti tentang keberadaan Dewan Pendidikan

Dewan Pendidikan tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan sekolah
Mensosialisasikan peran dan fungsi Dewan Pendidikan pada anggota sekolah,  Waka Humas

Mengundang Dewan Pendidikan sebagai salah satu nara sumber dalam penyusunan program sekolah,  Waka Humas
3
Dinas Pendidikan


Dinas Pendidikan berperan sebagai :
1.Pemberi pertimbangan
2.Pendukung pemikiran dan kegiatan
3.Penyelenggara pelatihan dan kompetisi
4.Pengontrol transparansi dan akuntabilitas
5Mediator antara sekolah dengan PEMDA

Dinas Pendidikan berfungsi sebagai:
1.Komintmen mutu pendidikan
2.Memberikan masukan dan rekomendasi
3.Melakukan pelatihan dan kompetisi
4.Melakukan evaluasi

Sekolah selalu mengundang  Dinas Pendidikan sebagai nara sumber di setiap kegiatan

Sekolah selalu melibatkan Dinas Pendidikan di setiap kegiatan

Sekolah selalu melaporkan semua kegiatan


Dinas Pendidikan kurang memaksimalkan peran dan fungsinya

Dinas Pendidikan kurang memberikan kontribusi pendanaan untuk pembinaan siswa dan guru berprestasi yang menjadi duta Kabupaten
Sekolah tidak mempunyai wewenang untuk dapat memaksimalkan peran dan fungsi Dinas Pendidikan

Sekolah tidak mempunyai akses untuk bisa memperoleh dukungan dana pembinaan
Mengundang PEMDA dan Dinas Pendidikan untuk bisa bersama-sama menyukseskan siswa dan guru yang menjadi duta daerah yang membutuhkan partisipasi dana dan pembinaan,  Waka Kurikulum dan Waka Humas.
4
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
LPMP berperan sebagai:
1.Pelaksana model-model pembelajaran
2.Fasilitator pembelajaran
3.Nara sumber informasi pendidikan

LPMP  berfungsi sebagai:
1.Komitmen Mutu Pendidikan
2.Merancang model pembelajaran
3.Mengadakan pelatihan
4.Melakukan kerjasama
5.Melakukan evaluasi
Sekolah selalu memprogramkan pendampingan untuk guru matapelajaran

Sekolah selalu memprogramkan in house training terkait dengan pembelajaran dan pemanfaatan tehnologi informasi setiap tahun nya
LPMP kurang aktif  dalam menjalankan peran dan fungsinya di sekolah

LPMP kurang selalu meng up date informasi terkait dengan kurikulum


Sekolah selalu bekerjasama dengan Perguruan Tinggi dalam program pendampingan guru matapelajaran

LPMP sebagai lembaga yang mestinya dekat dengan sekolah, tetapi justru tidak semua anggota sekolah tahu dengan pasti fungsi dan peran LPMP
Mengundang LPMP, dan Perguruan Tinggi sebagai nara sumber pembelajaran, Waka Kurikulum

Mengundang LPMP, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan, dan Pemda untuk komitmen bersama menyukseskan program sekolah yang membutuhkan pendukungan dana dan kebijakan


5
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, (MKKS)
MKKS berperan sebagai:
1.Pemberi Pertimbangan
2.Pendukung pemikiran
3.Mediator antara sekolah dan Dinas Pendidikan dan Pemda

MKKS berfungsi sebagai:
1.Komitmen mutu pendidikan
2.Melakukan kerjasama
3.Memberikan masukan dan rekomendasi
Sekolah berperan aktif dalam kegiatan dan kepengurusan MKKS

Sekolah menjadi alamat sekretariat MKKS



6
Musyawarah Guru Mata Pelajaran, (MGMP) Kabupaten
MGMP Kabupaten berperan sebagai:
1.Pelaksana kegiatan pengembangan guru matapelajaran
2.Pendukung pemikiran
3. Mediator antara guru matapelajaran dengan MKKS, Dinas Pendidikan, dan LPMP

MGMP Kabupaten berfungsi sebagai:
1.Komitmen mutu pendidikan
2.Melakukan pertemuan rutin pada hari MGMP
3.Melakukan kerjasama
4.Melakukan lesson study
5.Melakukan evaluasi
Sekolah mempunyai MGMP sekolah dan memberikan dukungan dana untuk kegiatan MGMP

Sekolah memberikan satu hari MGMP
Belum semua MGMP Kabupaten berperan maksimal/ aktif

Adanya kecenderungan hari MGMP sebagai hari libur guru
Tidak ada kebijakan yang mengikat dan mengharuskan guru matapelajaran tergabung dalam MGMP Kabupaten

MGMP Kabupaten kurang mempunyai program yang jelas dan kurang adanya sosialisasi program MGMP ke sekolah.

Sekolah masih membatasi jumlah guru yang bisa aktif dalam MGMP Kabupaten

Kurangnya Komitmen MGMP adalah libur kelas yang dimanfaatkan untuk pengembangan pembelajaran
Mengundang MKKS, Dias Pendidikan, LPMP, dan Pemda untuk ikut menyukseskan program MGMP Kabupaten yang membutuhkan dukungan dana dan kebijakan, Waka Humas

Mengundang MGMP sekolah untuk menyusun program dan pengembangan pembelajaran serta komitmen bersama untuk hari MGMP adalah bukan libur kelas yang dimanfaatkan untuk pengembangan diri,Waka Kurikulum



BAB III
PENUTUP


A.       Kesimpulan
1.    Hasil analisis konteks SMPN 1 Cipongkor ini adalah potret nyata dan menjadi tantangan ke depan dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan Standar nasional Pendidikan
2.    Kondisi Riil SMPN 1 Cipongkor dalam upaya mencapai delapan standar nasional pendidikan harus segera diadakan perbaikan dan penyempurnaan sebagai langkah tindak lanjut yang solutif sebagai upaya menuju sekolah yang berstandar nasional.
3.    Harus segera ditindaklanjuti kepada pihak pengambil kebijakan dalam rangka perbaikan dan optimalisasi program pengembangan sekolah ke depan.

B. Rekomendasi
1.    Para pemangku kebijakkan sekolah untuk segera berkoordinasi demi perbaikan komponen-komponen standar nasional pendidikan yang ditemukan masih belum maksimal pelayanannya
2.    Komite sekolah untuk dapat merangkul semua warga masyarakat agar bersama-sama lebih peduli kepada keberadaan SMPN 1 Cipongkor
3.    Dinas Pendidikan Prov. Jawa Barat, Disdikpora Kab. Bandung Barat, untuk lebih memprioritaskan bantuan untuk komponen-komponen dalam standar nasional pendidikan yang belum terpenuhi, berupa bantuan materi maupun softskill