GREE-ONE EKSIS !!! "EDUKATIF, KOMPETITIF, SELEKTIF, INOVATIF, SIMPATIK"

Kamis, 24 Januari 2013

PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS




BAGIAN I: PANDUAN UMUM

A.             Latar Belakang
Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu program utama Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka meningkatkan mutu proses dan output pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah pengembangan pendidikan karakter.

Sebenarnya pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada saat ini, setidak-tidaknya sudah ada dua mata pelajaran yang diberikan untuk membina akhlak dan budi pekerti peserta didik, yaitu Pendidikan Agama dan PKn. Namun demikian, pembinaan watak melalui kedua mata pelajaran tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan karena beberapa hal. Pertama, kedua mata pelajaran tersebut cenderung baru membekali pengetahuan mengenai nilai-nilai melalui materi/substansi mata pelajaran. Kedua, kegiatan pembelajaran pada kedua mata pelajaran tersebut pada umumnya  belum secara memadai mendorong terinternalisasinya nilai-nilai oleh masing-masing siswa sehingga siswa berperilaku dengan karakter yang tangguh. Ketiga, menggantungkan pembentukan watak siswa melalui kedua mata pelajaran itu saja tidak cukup. Pengembangan karakter peserta didik perlu melibatkan lebih banyak lagi mata pelajaran, bahkan semua mata pelajaran. Selain itu, kegiatan pembinaan kesiswaan dan pengelolaan sekolah dari hari ke hari perlu juga dirancang dan dilaksanakan untuk mendukung pendidikan karakter.

Merespons sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang telah diupayakan inovasi pendidikan karakter. Inovasi tersebut adalah:

1)         Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan di luar kelas untuk semua mata pelajaran.
2)         Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan kesiswaan.
3)         Selain itu, pendidikan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan semua urusan di sekolah yang melibatkan semua warga sekolah.

Pelaksanaan pendidikan karakter secara terpadu di dalam semua mata pelajaran (sebagaimana dimaksud oleh butir 1 di atas) merupakan hal yang baru bagi sebagian besar SMP di Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka membina pelaksanaan pendidikan karakter secara terpadu di dalam seluruh mata pelajaran, perlu disusun panduan pelaksanaan pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam pembelajaran di SMP, terutama ketika guru menggunakan Buku Sekolah Elektronik (BSE).

B.              Pengertian Pendidikan Karakter Terintegrasi di dalam Pembelajaran

Yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya perilaku.


C.             Strategi Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran.

1.      Perencanaan integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran

Pada tahap perencanaan dilakukan analisis SK/KD, pengembangan silabus, penyusunan RPP, dan penyiapan bahan ajar.

Analisis SK/KD dilakukan untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang secara substansi dapat diintegrasikan pada SK/KD yang bersangkutan. Perlu dicatat bahwa identifikasi nilai-nilai karakter ini tidak dimaksudkan untuk membatasi nilai-nilai yang dapat dikembangkan pada pembelajaran SK/KD yang bersangkutan.

Pengembangan silabus dapat dilakukan dengan merevisi silabus yang telah dikembangkan dengan menambah komponen (kolom) karakter tepat di sebelah kanan komponen (kolom) Kompetensi Dasar. Pada kolom tersebut diisi nilai(-nilai) karakter yang hendak diintegrasikan dalam pembelajaran. Nilai-nilai yang diisikan tidak hanya terbatas pada nilai-nilai yang telah ditentukan melalui analisis SK/KD, tetapi dapat ditambah dengan nilai-nilai lainnya yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran (bukan lewat substansi pembelajaran). Setelah itu, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, dan/atau teknik penilaian, diadaptasi atau dirumuskan ulang menyesuaikan karakter yang hendak dikembangkan.

Sebagaimana langkah-langkah pengembangan silabus, penyusunan RPP dalam rangka pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran dilakukan dengan cara merevisi RPP yang telah ada. Pertama-tama rumusan tujuan pembelajaran direvisi/diadaptasi. Revisi/adaptasi tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) rumusan tujuan pembelajaran yang telah ada direvisi hingga satu atau lebih tujuan pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif dan psikomotorik, tetapi juga karakter, dan (2) ditambah tujuan pembelajaran yang khusus dirumuskan untuk karakter.

Ke dua, pendekatan/metode pembelajaran diubah (bila diperlukan) agar pendekatan/metode yang dipilih selain memfasilitasi peserta didik mencapai pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan, juga mengembangkan karakter. Ketiga, langkah-langkah pembelajaran direvisi. Kegiatan-kegiatan pembelajaran dalam setiap langkah/tahap pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), direvisi dan/atau ditambah agar sebagian atau seluruh kegiatan pembelajaran pada setiap tahapan memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan dan mengembangkan karakter. Prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran aktif yang selama ini digalakkan aplikasinya oleh Direktorat PSMP sangat efektif mengembangkan karakter peserta didik.

Ke tiga, bagian penilaian direvisi. Revisi dilakukan dengan cara mengubah dan/atau menambah teknik-teknik penilaian yang telah dirumuskan. Teknik-teknik penilaian dipilih sehingga secara keseluruhan teknik-teknik tersebut mengukur pencapaian peserta didik dalam kompetensi dan karakter. Di antara teknik-teknik penilaian yang dapat dipakai untuk mengetahui perkembangan karakter adalah observasi, penilaian antar teman, dan penilaian diri sendiri. Nilai dinyatakan secara kualitatif, misalnya:

·         BT: Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator).
·         MT: Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten).
·         MB: Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten).
·         MK: Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten).

Ke empat, bahan ajar disiapkan. Bahan/buku ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. Banyak guru yang mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar, tanpa melakukan adaptasi yang berarti.

Melalui program Buku Sekolah Elektronik atau buku murah, dewasa ini pemerintah telah membeli hak cipta sejumlah buku ajar dari hampir semua mata pelajaran yang telah memenuhi kelayakan pemakaian berdasarkan penilaian BSNP dari para penulis/penerbit. Guru wajib menggunakan buku-buku tersebut dalam proses pembelajaran.

Walaupun buku-buku tersebut telah memenuhi sejumlah kriteria kelayakan - yaitu kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika – bahan-bahan ajar tersebut masih belum secara memadai mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Apabila guru sekedar mengikuti atau melaksanakan pembelajaran dengan berpatokan pada kegiatan-kegiatan pembelajaran pada buku-buku tersebut, pendidikan karakter secara memadai belum berjalan. Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang telah dirancang pada silabus dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter, bahan ajar perlu diadaptasi. Adaptasi yang paling mungkin dilaksanakan oleh guru adalah dengan cara menambah kegiatan pembelajaran yang sekaligus dapat mengembangkan karakter. Cara lainnya adalah dengan mengadaptasi atau mengubah kegiatan belajar pada buku ajar yang dipakai. Selain itu, adaptasi dapat dilakukan dengan merevisi substansi pembelajarannya.

Sebuah kegiatan belajar (task), baik secara eksplisit atau implisit terbentuk atas enam komponen. Komponen-komponen yang dimaksud adalah:

2)      Input
3)      Aktivitas
4)      Pengaturan (Setting)
5)      Peran guru
6)      Peran peserta didik

Dengan demikian, perubahan/adaptasi kegiatan belajar yang dimaksud menyangkut perubahan pada komponen-komponen tersebut.

Secara umum, kegiatan belajar yang potensial dapat mengembangkan karakter peserta didik memenuhi prinsip-prinsip atau kriteria berikut.

1.      Tujuan

Dalam hal tujuan, kegiatan belajar yang menanamkan nilai adalah apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga sikap. Oleh karenanya, guru perlu menambah orientasi tujuan setiap atau sejumlah kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu, misalnya kejujuran, rasa percaya diri, kerja keras, saling menghargai, dan sebagainya.

2.      Input

Input dapat didefinisikan sebagai bahan/rujukan sebagai titik tolak dilaksanakannya aktivitas belajar oleh peserta didik. Input tersebut dapat berupa teks lisan maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, charta, benda sesungguhnya, film, dan sebagainya. Input yang dapat memperkenalkan nilai-nilai adalah yang tidak hanya menyajikan materi/pengetahuan, tetapi yang juga menguraikan nilai-nilai yang terkait dengan materi/pengetahuan tersebut.

3.      Aktivitas

Aktivitas belajar adalah apa yang dilakukan oleh peserta didik (bersama dan/atau tanpa guru) dengan input belajar untuk mencapai tujuan belajar. Aktivitas belajar yang dapat membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai adalah aktivitas-aktivitas belajar aktif yang antara lain mendorong terjadinya autonomous learning dan bersifat learner-centered. Pembelajaran yang memfasilitasi autonomous learning dan berpusat pada siswa secara otomatis akan membantu siswa memperoleh banyak nilai. Contoh-contoh aktivitas belajar yang memiliki sifat-sifat demikian antara lain diskusi, eksperimen, pengamatan/observasi, debat, presentasi oleh siswa, dan mengerjakan proyek.

4.      Pengaturan (Setting)

Pengaturan (setting) pembelajaran berkaitan dengan kapan dan di mana kegiatan dilaksanakan, berapa lama, apakah secara individu, berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan peserta didik terbiasa kerja dengan cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama, saling menghargai, dan lain-lain.

5.      Peran guru

Peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit. Pernyataan eksplisit peran guru pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran guru pada kebanyakan kegiatan pembelajaran apabila buku guru tidak tersedia.

Peran guru yang memfasilitasi diinternalisasinya nilai-nilai oleh siswa antara lain guru sebagai fasilitator, motivator, partisipan, dan pemberi umpan balik. Mengutip ajaran Ki Hajar Dewantara, guru yang dengan efektif dan efisien mengembangkan karakter siswa adalah mereka yang ing ngarsa sung tuladha (di depan guru berperan sebagai teladan/memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah-tengah peserta didik guru membangun prakarsa dan bekerja sama dengan mereka), tut wuri handayani (di belakang guru memberi daya semangat dan dorongan bagi peserta didik).

6.      Peran peserta didik

Seperti halnya dengan peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar, peran siswa biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit juga. Pernyataan eksplisit peran siswa pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran siswa pada kebanyakan kegiatan pembelajaran.

Agar peserta didik terfasilitasi dalam mengenal, menjadi peduli, dan menginternalisasi karakter, peserta didik harus diberi peran aktif dalam pembelajaran. Peran-peran tersebut antara lain sebagai partisipan diskusi, pelaku eksperimen, penyaji hasil-hasil diskusi dan eksperimen, pelaksana proyek, dsb.


2.      Pelaksanaan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dari tahapan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup, dipilih dan dilaksanakan agar peserta didik mempraktikkan nilai-nilai karakter yang ditargetkan. Sebagaimana disebutkan di depan, prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning disarankan diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik. Diagram 1.1. berikut menggambarkan penanaman karakter melalui pelaksanaan pembelajaran.


 












Diagram 1.1: Penanaman Karakter melalui Pelaksanaan Pembelajaran

D.             Nilai-nilai Karakter untuk SMP

Ada banyak nilai (80 butir) yang dapat dikembangkan pada peserta didik. Menanamkan semua butir nilai tersebut merupakan tugas yang sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih nilai-nilai tertentu sebagai nilai utama yang penanamannya diprioritaskan. Untuk tingkat SMP, nilai-nilai utama tersebut disarikan dari butir-butir SKL, yaitu:

1.      Kereligiusan
Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.
2.      Kejujuran
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.
3.      Kecerdasan
Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika  untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari  apa yang telah dimiliki.
4.      Ketangguhan
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan  guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
5.      Kedemokratisan
Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
6.      Kepedulian
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya.
7.      Bertanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.
8.      Bergaya hidup sehat
Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
9.      Kedisiplinan
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
10.  Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan  guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
11.  Percaya diri
Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
12.  Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika  untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari  apa yang telah dimiliki.
13.  Kemandirian
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
14.  Keingintahuan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
15.  Cinta ilmu
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap pengetahuan.
16.  Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
17.  Patuh pada aturan-aturan sosial
Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan  kepentingan umum.
18.  Menghargai  karya dan prestasi orang lain
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
19.  Kesantunan
Sifat yang halus dan baik  dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
20.  Nasionalisme
Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
21.  Menghargai keberagaman
Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
22.  Berjiwa kepemimpinan
Kemampuan untuk dapat mengarahkan dan mengajak individu atau kelompok mencapai tujuan dengan berpegang pada asas-asas kepemimpinan yang berbudaya.
23.  Berorientasi pada tindakan
Kemampuan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.
24.  Berani mengambil risiko
Kesiapan menerima risiko (akibat) yang mungkin timbul dari tindakan yang dilakukan. 

Di antara butir-butir nilai tersebut di atas, enam butir dipilih sebagai nilai-nilai pokok sebagai pangkal tolak pengembangan, yaitu:

1.      Kereligiusan
2.      Kejujuran
3.      Kecerdasan
4.      Ketangguhan
5.      Kedemokratisan
6.      Kepedulian
Keenam butir nilai tersebut ditanamkan melalui semua mata pelajaran dengan intensitas penanaman lebih dibandingkan penanaman nilai-nilai lainnya.

a.      Pemetaan Nilai-nilai Karakter untuk Integrasi dalam Mata Pelajaran

Apabila semua nilai tersebut di atas harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada setiap mata pelajaran, penanaman nilai menjadi sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya pada setiap mata pelajaran. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja walaupun tidak berarti bahwa nilai-nilai yang lain tersebut tidak diperkenankan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Tabel 1.1 menyajikan contoh distribusi nilai-nilai pokok dan utama ke dalam semua mata pelajaran.

E.              Pemetaan Nilai-nilai Karakter untuk Integrasi dalam Mata Pelajaran

Apabila semua nilai tersebut di atas harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada setiap mata pelajaran, penanaman nilai menjadi sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya pada setiap mata pelajaran. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja walaupun tidak berarti bahwa nilai-nilai yang lain tersebut tidak diperkenankan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Tabel 1.1 menyajikan contoh distribusi nilai-nilai pokok dan utama ke dalam semua mata pelajaran.


Mata Pelajaran


Nilai Utama
1.  Pendidikan Agama
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, santun, disiplin, bertanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras
2.  PKn
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, nasionalis, patuh pada aturan sosial, menghargai keberagaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
3.  Bahasa Indonesia
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis
4.  Matematika
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, berpikir logis, kritis, kerja keras, ingin tahu, mandiri, percaya diri
5.  IPS
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, nasionalis, menghargai keberagaman, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, kerja keras
6.  IPA
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, cinta ilmu
7.  Bahasa Inggris
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerjasama, patuh pada aturan sosial

8.  Seni Budaya
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin tahu, disiplin
9.  Penjasorkes
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, percaya diri, mandiri, menghargai karya dan prestasi orang lain
10.TIK/ Keterampilan
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan menghargai karya orang lain
11.  Muatan Lokal
Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis
Tabel 1.1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran

F.               Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter

Sebagaimana disebutkan di depan, integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi yang mengembangkan karakter adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak 2002.

Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

1.      Konstruktivisme (Constructivism)

Konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa orang menyusun atau membangun pemahaman mereka terhadap sesuatu berdasarkan  pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan awal dan kepercayaan mereka. 

Pemahaman konsep yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar otentik dan bermakna; guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Pembelajaran dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran dirancang dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan gagasan, dan sebagainya.

Tugas guru dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan:

(b)      menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
(c)       memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
(d)     menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Penerapan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, mandiri, cinta ilmu, rasa ingin tahu, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan percaya diri.

2.      Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

(a)         menggali informasi, baik teknis maupun akademis
(b)         mengecek pemahaman siswa
(c)          membangkitkan respon siswa
(d)        mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
(e)         mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
(f)           memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
(g)         menyegarkan kembali pengetahuan siswa

Pembelajaran yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa mencapai tujuan belajar dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, dan percaya diri.

3.      Inkuiri (Inquiry)

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Langkah-langkah kegiatan inkuiri:

a)         merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
b)        Mengamati atau melakukan observasi
c)         Menganalisis dan menyajikan hasil  dalam tulisan, gambar, laporan, bagan,  tabel, dan karya lain
d)        Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau yang lain

Pembelajaran yang menerapkan prinsip inkuiri  dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis,  logis, kreatif, dan inovatif, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, jujur, dan tanggung jawab.

4.      Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik daripada belajar secara individual.

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.

Praktik masyarakat belajar terwujud dalam:
(a)         Pembentukan kelompok kecil
(b)         Pembentukan kelompok besar
(c)          Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, petani, polisi, dan lainnya)
(d)        Bekerja dengan kelas sederajat
(e)         Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
(f)           Bekerja dengan masyarakat

Penerapan prinsip masyarakat belajar di dalam proses pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain kerjasama, menghargai pendapat orang lain, santun, demokratis, patuh pada turan sosial, dan tanggung jawab.

5.      Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar. Guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu  untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

Contoh praktik pemodelan di kelas:

a)         Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa
b)        Guru PKn mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh tersebut
c)         Guru Geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya
d)        Guru Biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan

Pemodelan dalam pembelajaran antara lain dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai orang lain, dan rasa percaya diri.

6.         Refleksi (Reflection)

Refleksi dilakukan agar siswa memikirkan kembali apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama proses pembelajaran untuk membantu mereka menemukan makna personal masing-masing. Refleksi biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran antara lain melalui diskusi, tanya-jawab, penyampaian kesan dan pesan, menulis jurnal, saling memberi komentar karya, dan catatan pada buku harian.

Refleksi dalam pembelajaran antara lain dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kritis, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan menghargai pendapat orang lain.

7.         Penilaian otentik (Authentic assessment)

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Penilaian autentik dalam pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter antara lain kejujuran, tanggung jawab, menghargai karya dan prestasi orang lain, kedisiplinan, dan cinta ilmu.

G.             Penggunaan BSE untuk Pendidikan Karakter

1.      Potensi penggunaan BSE dalam pendidikan karakter

Buku-buku pelajaran SMP yang telah masuk dalam daftar BSE memenuhi kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika. Dalam hal isi, setiap BSE memuat semua SK/KD sebagaimana ditetapkan melalui Permen Diknas 22/2006 dengan cakupan dan kedalaman pembahasan yang memadai. Selanjutnya isi/materi disajikan dan/atau dibelajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Banyak di antara kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pelaku pembelajaran yang aktif. Bahasa untuk menyajikan materi merupakan bahasa Indonesia yang baku, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa SMP, dan gagasan/pesan disajikan secara koheren. Dari sisi grafika, BSE memenuhi berbagai ketentuan kegrafikaan. Selain itu, BSE pada umumnya tidak bias gender, mengembangkan keberagaman/kebhinekaan, serta jiwa kewirausahaan.

Memperhatikan ciri-ciri tersebut di atas, BSE memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan mengembangkan karakter peserta didik secara terpadu dalam pembelajaran. Hanya dengan melakukan sejumlah revisi, buku-buku tersebut dapat digunakan untuk melaksanakan pendidikan karakter secara terintegrasi dalam pembelajaran.

2.      Strategi umum penggunaan BSE untuk pendidikan karakter

Di depan disebutkan bahwa BSE memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan mengembangkan karakter peserta didik secara terpadu dalam pembelajaran. Dengan melakukan adaptasi seperlunya, buku-buku pelajaran yang telah masuk daftar BSE akan dengan efektif memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan/kecakapan, dan membangun karakter. Berikut empat jenis adaptasi yang dapat dilakukan. Adaptasi jenis a, b, c, dan d berturut-turut dari yang paling dianjurkan ke yang kurang dianjurkan.

a.      Adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan
Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis  pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

b.      Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, atau reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis  pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

c.       Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Guru membuat sejumlah adaptasi (misalnya penambahan isi, perubahan atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan atau perubahan teknik penilaian) secara tertulis tetapi pada lembar terpisah, tidak menyatu dengan bahan ajar. Catatan-catatan pada lembar-lembar terpisah tersebut digunakan oleh guru selama proses pembelajaran.

d.     Adaptasi sebagian/parsial selama pembelajaran dilaksanakan (isi dan/atau kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi)

Adaptasi jenis ini mencakup revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Guru membuat sejumlah adaptasi (misalnya penambahan isi, perubahan atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan atau perubahan teknik penilaian) secara spontan selama proses pembelajaran berlangsung.


BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS
MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

Nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk semua mata pelajaran pada dasarnya sama, yaitu nilai karakter manusia dalam berkehidupan, berketuhanan, dan bersesama. Lebih rinci, nilai karakter itu berkenaan dengan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan bangsa. Artinya, dalam kehidupan, nilai karakter itu berfungsi mengontrol dan dimanifestasikan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan alam, dan bangsa. Demikian pula, nilai karakter untuk mata pelajaran bahasa Inggris

A.    Nilai Karakter untuk Mapel Bahasa Inggris
Sesuai dengan anjuran yang telah dikemukakan di atas, nilai karakter yang dapat diitegrasikan dalam mata pelajaran bahasa Inggris terdiri dari beberapa nilai karakter pokok atau utama. Ketentuan yang berkenaan dengan nilai karakter pokok atau utama itu bukan berarti membatasi pengenalan, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter yang lain. Artinya, nilai karakter yang lain, sepanjang memungkinkan diitegrasikan dalam pembelajaran, juga dianjurkan untuk dikenalkan, dikembangkan, dan dibudayakan dalam kehidupan nyata peserta didik. Nilai karakter pokok, dalam hal ini, ialah nilai karakter yang dijadikan pangkal tolak pengembangan nilai karakter yang lain. Melalui penanaman, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter pokok ini diharapkan nilai karakter yang lain dapat dikembangkan pula. Nilai karakter utama ialah nilai karakter yang diprioritaskan untuk ditanamkan, dikembangkan, dan dibudayakan bagi dan oleh peserta didik. Beberapa nilai karakter utama juga disebutkan dalam nilai karakter pokok karena nilai karakter itu merupakan dasar atau pangkal tolak pengenalan, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter yang lain.
Satu hal yang perlu disadari ialah tidak ada nilai karakter kehidupan manusia yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan yang lain. Nilai karakter yang satu dan nilai karakter yang lain senantiasa saling bersinggungan, tumpang tindih, dan atau terkait; bahkan nilai karakter yang satu kadang merupakan prasyarat bagi nilai karakter yang lain; nilai karakter yang satu kadang juga merupakan manifestasi atau perwujudan dari nilai karakter yang lain.
Untuk mata pelajaran bahasa Inggris, nilai karakter pokok dan nilai karakter utama yang dianjurkan untuk diitegrasikan dalam pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.         Nilai Karakter Pokok dan Indikatornya
Di antara butir-butir nilai karakter yang dianjurkan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran, ada enam butir nilai yang dipilih sebagai nilai karakter pokok, yaitu nilai karakter yang menjadi pangkal tolak pengembangan nilai karakter yang lain. Enam nilai karakter pokok tersebut dapat dirumuskan indikatornya berdasarkan empat kompetensi keterampilan berbahasa seperti pada tabel berikut.

No
Karakter

Indikator
1
Religiusitas

Mengawali dan mengakhiri pelajaran dengan berdoa, memberi ucapan (teks fungsional pendek) dalam perayaan Lebaran, Natal, dan kegiatan lain yang sejenis
2
Kecerdasan

Merespon makna dan mengungkapkan pendapat secara runtut, baik secara lisan maupun tertulis.

3
Kesantunan

Menggunakan ungkapan dengan santun disertai gerak tubuh yang sesuai.

4
Kejujuran

Mengungkapkan fakta secara benar.

5
Percaya diri

Menggunakan bahasa secara benar, lancar, tidak ragu-ragu dengan bahasa tubuh yang wajar.

6
Kepedulian
Menyapa orang-orang di sekitarnya, meminta maaf, mengucapkan terima kasih dengan ungkapan yang santun dalam interaksi interpersonal, mengungkapkan rasa peduli terhadap kelestarian lingkungan yang ditunjukkan dalam teks fungsional pendek.

7
Kerjasama

Melakukan diskusi secara berpasangan atau curah pendapat dalam kelompok maupun kelas pada setiap proses pembelajaran.

8
Menghargai keberagaman

Memberi pujian atas hasil kerja teman, dan menerima adanya perbedaan pendapat dalam kegiatan pembelajaran.

9
Ketangguhan

Berupaya untuk belajar dari kesalahan demi perbaikan dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik.

10
Demokrasi

Bersedia mendengarkan , meminta  dan mengungkapkan pendapat.

11
Kemandirian

Menyelesaikan tugas-tugas secara bertanggung-jawab dan dengan usaha sendiri.

12
Kepatuhan pada aturan sosial

Mentaati peraturan-peraturan yang ditulis dalam bahasa Inggris di lingkungan sekolah.

Untuk lebih jelasnya, secara umum, paparan nilai-nilai utama karakter dan budaya bangsa tersebut di atas selanjutnya dapat dicerminkan, antara lain pada saat memformulasikan indikator dan mengembangkan bahan ajar. Berikut ini adalah beberapa contoh  pengintegrasian masing-masing nilai karakter pada indikator dan bahan ajar dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Contoh-contoh Pengintegrasian Nilai-nilai Karakter Utama
            Pada bagian ini disajikan beberapa contoh pengintegrasian nilai-nilai karakter seperti kesantunan, kejujuran, kepercayaan diri, kepedulian sosial, tanggung jawab, kecerdasan, kerjasama, upaya menghargai keberagaman dan nilai demokrasi, pada indikator dan selanjutnya direfleksikan pada latihan atau aktivitas pembelajaran bahasa Inggris (bahan ajar).

1.    Kesantunan
Indikator  : merespon dan mengungkapkan kesantunan
Bahan ajar            : Please open the door (ungkapan kesantunan)

2.    Kejujuran
Indikator  : meminta dan memberi informasi yang benar
Bahan ajar            : Where is the post office? (asking direction)


3.    Kepercayaan diri
Indikator         : membaca nyaring dengan lafal dan intonasi yang benar
Bahan ajar       : Read the text aloud (misalnya dengan memberikan teks tulis
  berbentuk deskriptif)

4.    Kepedulian sosial
Indikator         : menyapa orang yang sudah/belum dikenal
Bahan ajar       : Ungkapan sapaan seperti “Hello”, Good morning” dan
                           seterusnya.

5.    Religiusitas
Indikator         : mengungkapkan rasa simpati secara tertulis pada persitiwa
                            keagamaan. (menulis greeting cards)
 Bahan ajar      : Ungkapan simpati dan teks greeting, misalnya  
                            “Happy Lebaran Day”, “ Merry Christmas”

6.    Kecerdasan (berpikir logis, kritis dan kreatif)
Indikator         : melakukan monolog dalam bentuk deskriptif
Bahan ajar       : Tell your friends about the food you prefer most.

7.    Kerjasama
Indikator          : melakukan percakapan secara berpasangan
Bahan ajar        : Make a conversation and perform it in pair

8.    Penghargaan terhadap keberagaman
Indikator          : memajang hasil karya tulis untuk diapresiasi/dikomentari
  Bahan ajar        : Please put the result of your discussion on the wall and let your
                                friends give critical comments.

9.    Demokrasi
Indikator          : meminta pendapat
Bahan ajar        : What do you think about ...?
          

Selanjutnya akan dipaparkan pengintegrasian nilai-nilai utama dan nilai-nilai pokok pendidikan karakter untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, khususnya dalam aspek “perangkat pembelajaran” seperti silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan “adaptasi buku sekolah elektronik (BSE)”.

B. Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas VII

            Kegiatan pembelajaran diawali dengan perencanaan perangkat pembelajaran seperti mengembangan silabus berdasarkan Standar Isi yang kemudian dituangkan dalam bentuk RPP untuk mengimplementasikan kegiatan pembelajaran di kelas. Silabus dan RPP yang telah dikembangkan sebelumnya dan belum bermuatan nilai-nilai pendidikan karakter dapat diadaptasi sesuai dengan usia tumbuh kembang peserta didik.
Perlu dipahami bahwa pengintegrasian nilai-nilai karakter dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu (1) menambah kolom khusus dengan sub judul “Karakter” dalam silabus; (2) dengan menambahkan nilai karakter yang akan diimplementasikan pada “indikator”, dan (3)  pada “kegiatan pembelajaran” dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau (4) mengadaptasi BSE secara lengkap atau parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan atau selama pembelajaran dilaksanakan. Berikut ini disajikan contoh pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dalam Silabus dan RPP Mapel Bahasa Inggris kelas VII.


B.1 Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Silabus
Silabus Bahasa Inggris Kelas VII Semester I yang dicontohkan berikut ini, fokus pada “berbicara”,  telah mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang seharusnya ditanamkan untuk peserta didik yang meliputi kejujuran, kesantunan dan rasa percaya diri, yaitu dengan menambahkan kolom “Karakter”, yang disisipkan setelah “Kompetensi Dasar”. Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat lampiran yang memaparkan secara rinci pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dalam Silabus Mapel Bahasa Inggris kelas VII Semester I dan II untuk keempat standar kompetensi: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.

 

Silabus pembelajaran

Satuan Pendidikan                 : SMP
Kelas                                       : VII (Tujuh)
Semester                                : 1 (Satu)
Mata Pelajaran                       : Bahasa Inggris
Standar Kompetensi              : 1.   Mendengarkan
         Memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal sangat sederhana untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat


Kompetensi
Dasar


Karakter

Materi Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber
Belajar
Teknik
Penilaian
Bentuk
 Instrumen
Contoh
Instrumen
 9.2  Mengungkap-kan  makna dalam  percakapan transaksional (to get things done)& interpersonal (bersosialisai) sangat sederhana dengan mengguna-kan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar  dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat yang melibatkan tindak tutur : meminta dan memberi pendapat, menyatakan suka dantidak suka, meminta klarifikasi, merespon secara interpersonal

Jujur

Kesantunan

Percaya diri
1.      Percakapan singkat memuat ungkapan-ungkapan :

Contoh :
Asking for and giving opinion
A: What do you  
     think?
B: Not bad

Likes and dislikes
A:  I like tea.
B:  I do too. But I
     dont    
      like milk
A:  But I do!

Asking for clarification
A :  What did you
      say ?  
B :  I said ….

Responding interpersonally
A:  Are you?
B : Yes, I am

2.    Tata Bahasa
         Verb : Like, need, want

3.    Kosa kata
·    Daily needs
·    Kata terkait jenis teks

4.    Ungkapan Baku
·    Not bad.
·    Great!

1.      Language games dan kegiatan interaktif yang berkaitan dengan kosa kata dan tata bahasa terkait dengan tindak tutur : meminta dan member pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan member klarifikasi dengan santun dan merespon secara interpersonal

2.      Berlatih mengucapkan tindak tutur tersebut dengan ucapan dan intonasi yang benar.

3.      Mendengar-kan model percakapan dan menirukannya dengan tepat

4.      Melakukan percakapan transaksional dan interpersonal menggunakan tindak tutur tersebut secara berpasangan tentang percakapan yg didengar.
1.  Melakukan dialog pendek menggunakan ungakapan-ungakapan: Meminta dan memberi pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan memberi klarifikasi dengan santun dan, merespon secara interpersonal
2.  Memberikan jawaban singkat dengan menggunakan ungakapan-ungakapan: Meminta dan memberi pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan memberi klarifikasi dengan santun dan, merespon secara interpersonal

3.  Bermain peran dengan penuh percaya diri  menggunakan ungakapan-ungakapan: Meminta dan memberi pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan memberi klarifikasi dengan santun dan, merespon secara interpersonal

Unjuk kerja















Unjuk kerja

















Unjuk kerja






Short dialogue















Short answer

















Bermain peran


1.   Take turns to ask for and give opinions about each of the jobs below. Do it in pairs.









2.   Respond to the following expressions orally!














3.   Make a role-play based on the following situations


2x40 menit
Script dari buku BSE

 Bahan-bahan rekaman (kaset, CD, VCD)

Media lain yang relevan




Di samping pengintegrasian nilai pendidikan karakter dalam silabus di atas, terdapat kemungkinan lain untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, yaitu dengan mengintegrasikannya dalam komponen RPP seperti contoh berikut.

B.2 Pengintegrasian Nilai Karakter dalam RPP
Selanjutnya, contoh RPP bahasa Inggris Kelas VII dengan fokus “berbicara”yang telah disisipi nilai pendidikan karakter yang sesuai dengan karakter pembelajaran bahasa Inggris disajikan sebagai berikut.





Dalam contoh di atas pengintegrasian nilai karakter terdapat pada kompetensi dasar yang berbunyi “... melibatkan tindak tutur: meminta dan memberi pendapat, menyatakan suka dan tidak suka, meminta klarifikasi dan merespon secara interpersonal”. Nilai karakter yang diintegrasikan adalah  kejujuran, kesantunan dan percaya diri. Integrasi nilai karakter tersebut tercermin dalam tujuan pembelajaran seperti berikut:
·         ... meminta dan memberi pendapat dengan jujur  
·         “ ... meminta klarifikasi dengan santun
Nilai karakter dalam contoh di atas diajarkan secara integratif dalam substansi materi. Selain nilai yang terdapat dalam bahan ajar, terdapat nilai lain yang diajarkan melalui serangkaian kegiatan pembelajaran sebagaimana terlihat dalam kutipan di atas. Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada lampiran yang memaparkan secara rinci pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dalam RPP Mapel Bahasa Inggris kelas VII Semester I dan II untuk keempat standar kompetensi: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.           
Strategi lain yang dapat diimplementasikan untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter adalah mengadaptasi isi, metode pembelajaran, bahasa, dan grafika dalam BSE.

C. Penggunaan BSE Mata Pelajaran Bahasa Inggris untuk Pendidikan Karakter
            Bagian ini menjabarkan gambaran umum BSE Mapel Bahasa Inggris yang didasarkan pada hasil analisis isi yang meliputi aspek isi, metode pembelajaran, bahasa, dan grafika, serta potensi BSE untuk pendidikan karakter.

C.1 Gambaran Umum BSE Mata Pelajaran Bahasa Inggris

            BSE terbitan Pusat Perbukuan Pendidikan Nasional (disingkat Pusbuk) tahun 2008 dianalisis berdasarkan 4 (empat) aspek: isi, metode pembelajaran, bahasa dan grafika. Hasil analisis menunjukkan bahwa:

 (1) Isi BSE mata pelajaran Bahasa Inggris telah dikembangkan sesuai dengan Standar Isi yang memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar yang mencakup keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Secara rinci,  bahan ajar untuk keterampilan  “mendengarkan” memiliki kecukupan untuk mengembangkan kompetensi merespon makna teks transaksional/interpersonal, teks fungsional pendek dan monolog dalam bentuk deskripsi dan prosedur; bahan ajar untuk keterampilan  “berbicara” memiliki kecukupan untuk mengembangkan kompetensi mengungkapkan makna teks transaksional/interpersonal, teks fungsional pendek dan monolog dalam bentuk deskripsi dan prosedur; bahan ajar untuk keterampilan  “membaca” memiliki kecukupan untuk mengembangkan kompetensi merespon makna teks fungsional pendek dan esei dalam bentuk deskripsi dan prosedur; dan bahan ajar untuk keterampilan  “menulis” memiliki kecukupan untuk mengembangkan kompetensi mengungkapkan makna teks fungsional pendek dan esei dalam bentuk deskripsi dan prosedur. Isi BSE tersebut juga memiliki kecukupan bahan ajar terkait dengan leksiko gramatika, struktur teks serta fungsi komuniktif teks yang relevan.

(2) Metode pembelajaran mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran aktif seperti peserta didik diberi pengalaman untuk berdiskusi secara berpasangan atau berkelompok, melakukan kegiatan untuk memperoleh pengalaman pribadi, mengkontruksikan apa yang dialami, melakukan inkuiri dsb.

(3) Bahasa yang dipakai untuk “instruksi” bersifat bilingual untuk Kelas VII Semester I dan monolingual untuk Semester II. Di samping itu, pemakaian bahasa bersifat formal dan informal serta komunikatif. Penggunaan bahasa sesuai dengan  tingkat literasi peserta didik SMP, yakni tingkat fungsional yang tercermin pada banyaknya fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang dipelajari.

(4) Grafika dalam buku elektronik tersebut cukup bermakna dan otentik, misalnya untuk mengungkapkan pendapat tentang profesi, dipaparkan berbagai gambar profesi otentik.

(5) Untuk BSE dengan judul “Scaffolding” misalnya, telah terdapat muatan nilai karakter pada bagian-bagian tertentu sehingga tidak perlu diadaptasi. Sebagai contoh:




  Bahan ajar di atas merupakan cuplikan dari BSE “Scaffolding” Kelas VII Semester I Unit 2 Task 1 dengan judul “Tina, This is Angelina”. Ditinjau dari segi isi dan  kegiatan pembelajaran task ini tidak perlu diadaptasi untuk menanamkan nilai-nilai karakter karena baik isi dan kegiatan pembelajaran telah mengandung nilai-nilai karakter, yaitu nilai kerja sama yang dinyatakan dalam ungkapan “in pairs” dan “...with your partner”, dan nilai peduli dicerminkan dari isi percakapan tentang perkenalan diri yang menyatakan bahwa pembicara saling mempedulikan satu dengan lain.
Strategi lain yang dapat dilakukan oleh guru adalah mengadaptasi bahan ajar bahasa Inggris yang telah ada di pasaran atau dunia maya (Buku Sekolah Elektronik/BSE) dan mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan pembelajaran bahasa Inggris. Berikut in cuplikan beberapa contoh umum cara mengadaptasi  bahan ajar dari BSE yang semula belum dimuati nilai-nilai karakter untuk peserta didik SMP. Sedangkan contoh secara khusus unit-unit bahan ajar dari BSE mata pelajaran Bahasa Inggris untuk pengintegrasian pendidikan karakter akan dipaparkan lebih lanjut pada Bagian C2.


Contoh Umum (dari BSE Kelas VII Semester 1)
A. Listen to the dialogues from the tape. Complete the dialogues while you are listening (belum ada muatan nilai karakter).
     1. Father: Could you turn off the light, Edi?
         Edi     : Of course.

     2. Kasih: Did you see my novel?
         Mila  : I lost it yesterday.

A1. Listen to the dialogues from the tape. Complete the dialogues while you are listening. Then, perform one of the short dialogues with your partner (terdapat muatan nilai karakter).

1. Father: Could you turn off the light, Edi?
    Edi     : Of course.
                                        
2. Kasih: Did you see my novel?
    Mila  : I lost it yesterday
                         
Dari contoh diatas nampak adanya perubahan instruksi pada Latihan A dan A1,  yaitu instruksi pada Latihan A belum ada muatan nilai karakter, sedangkan instruksi Latihan A1 memuat nilai karakter “kerjasama” yang dinyatakan dalam ungkapan “..... with your partner”.


References:

Agustien, Helena, et.al. (2004). Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris (Vol. 1).
Jakarta: Depdiknas
-----------(2004). Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris (Vol. 2). Jakarta: Depdiknas.
Priyana, Joko. (2002). Developing EFL Task-Based Language Instruction in an Indonesian Primary School Context. Unpublished Dissertation.
--------- (2008). Scaffolding SMP VII. Jakarta: BSNP
Tomlinson, B. (Ed.). 1998. Materials Development in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

LAMPIRAN
1.    Silabus Pelajaran Bahasa Inggris SMP kelas VII
2.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) keterampilan Speaking untuk kelas VII

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar